Archive for August, 2011

Kisah Bunga Lily

Dikisahkan, di tepian tebing yang terjal, tumbuhlah setangkai tunas bunga lily. Saat tunas bunga lily mulai bertumbuh, dia tampak seperti sebatang rumput biasa. Tetapi, dia mempunyai keyakinan yang kuat, bahwa kelak dia pasti akan tumbuh menjadi sekuntum bunga lily yang indah.

Rumput-rumput liar di sekitarnya mengejek dan menertawakannya. Burung-burung dan serangga pun menasihatinya agar tunas lily jangan bermimpi menjadi bunga. Mereka pun berkata, “Hai tunas muda, sekalipun kamu bisa mekar menjadi kuntum bunga lily yang cantik, tetapi lihatlah sekitarmu. Di tebing yang terpencil ini, biarpun secantik apa pun dirimu kelak, tidak ada orang yang akan datang melihat dan menikmati keindahanmu.”

 

Diejek seperti itu, tunas bunga lily tetap diam dan semakin rajin menyerap air dan sinar matahari agar akar dan batangnya bertumbuh kuat. Akhirnya, suatu pagi di musim semi, saatnya kuncup pertama pun mulai bertumbuh. Bunga lily merasa senang sekali. Usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia. Hal itu menambah keyakinan dan kepercayaan dirinya.

Dia berkata kepada dirinya sendiri, “Aku akan mekar menjadi sekuntum bunga lily yang indah. Kewajibanku sebagai bunga adalah mekar dan berbunga. Tidak peduli apakah ada orang yang akan melihat atau menikmati keberadaanku. Aku tetap harus mekar dan berbunga sesuai dengan identitasku sebagai bunga lily.”

Hari demi hari, waktu terus berjalan. Akhirnya, kuncup bunga lily pun mekar berkembang-tampak indah dan putih warnanya. Saat itulah, rumput liar, burung-burung, dan serangga tidak berani lagi mengejek dan menertawakan si bunga lily.

Bunga lily pun tetap rajin memperkuat akar dan bertumbuh terus. Dari satu kuntum menjadi dua kuntum, berkembang lagi, terus dan terus berkembang, semakin banyak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, tebing pun seolah diselimuti oleh hamparan putih bunga-bunga lily yang indah. Orang-orang dari kota maupun desa, mulai berdatangan untuk menikmati keindahan permadani putih bunga lily. Dan tempat itu pun kemudian terkenal dengan sebutan “Tebing Bunga Lily.”

 

Cerita semangat bunga lily ini menginspirasikan kepada kita, saat kita mempunyai impian, ide, keinginan, atau apapun yang menjadi keyakinan kita untuk diwujudkan, jangan peduli ejekan orang lain! Jangan takut diremehkan oleh orang lain! Tidak perlu menanggapi semua itu dengan emosi, apalagi membenci. Justru sebaliknya, tetaplah yakin dan berjuang dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Buktikan semua mimpi bisa menjadi nyata.

Hanya dengan bukti keberhasilan yang mampu kita ciptakan, maka identitas kita, jati diri kita, lambat atau cepat pasti akan diakui dan diterima; selaras dengan pepatah yang menyatakan: “A great pleasure in life is doing what people say, you cannot do.” Kepuasan terbesar dalam hidup ini adalah mampu melakukan apa yang dikatakan orang lain tidak dapat kita lakukan.

Advertisements

Pohon Pepaya itu…

Pagi hari yang dingin, aku mencoba membuka kantung mataku yang berat, hoahemm.. Sambil mengucek-ngucek mata yang masih terasa berat aku melirik ke arah jam dinding yang tergantung di sebelah barat tempat tidurku. Jam 4.12 pagi, gumamku pelan. Aku menguap lagi. Dengan badan yang masih lemas, aku mulai merapikan tempat tidurku, melipat selimut tidur dan menempatkan bantal diatasnya. Aku mulai berjalan, melangkahkan kaki lalu meraih knop pintu. Kreek… kubuka pintu seketika ku pandangi disekelilingku ada berbagai macam benda berserakan,, Ya ampuun, batinku pelan.”Pasti anak-anak semalaman main sampe-sampe rumah berantakan kayak gini…” Nggak apa-apalah, aku ikhlas karena Allah, nanti aku bersihin setelah sholat Shubuh, gumamku.

Lalu aku beranjak pergi menuju kamar mandi, mengambil wudhu lalu mengerjakan shalat shubuh. Pagi ini terasa dingin sekali, biasalah, di bulan Ramadhan cuacanya ekstrim kayak gini. Jam menunjukkan pukul 04.31 pagi.Diluar masih kelihatan gelap, aku tak mau membuang-buang waktuku dengan percuma. Lantas kuraih Al-Qur’an yang aku taruh diatas lemari. Bissmillah.. Dengan posisi masih duduk diatas sajadah, akau mulai membaca ayat suci Al-Qur’an… Hari terasa semakin indah…

Seusai membaca Al-Qur’an, aku melipat mukenaku dengan rapi lalu menaruhnya didalam almari. Aku menyeruak keluar dari kamar, suara televisi mulai terdengar amat jelas , kutemui dua orang keponakanku sedang duduk diatas kursi makan, mereka sedang asyiknya menonton siaran televisi. Kau tahu apa yang mereka tonton? Siapa lagi kalau bukan Sponge Bob Squarepants… Hahaha… Diam-diam aku juga suka nonton spongebob… hehehe.. Tak ada waktu yg sia-sia. Lalu aku menuju dapur, mengambil benda yang punya sikat dan tongkat. Aku mulai menyapu dari kamar menuju ke ruang keluarga, lalu ruang tamu dan berakhir di teras luar. Ku buka pintu depan lebar-lebar. Kuhirup udara segar. Hhmmm.. segar sekali. Udara pagi memang segar dan menyehatkan.. Setelah selesai menyapu, kupandangi sederet tanaman yang ada di halaman rumah. Masya Allah, tanamannya mulai mengering! teriak batinku. Ada satu tanaman yang membuatku tergelitik untuk tertawa.. Oh Tuhan.. Siapa yang melakukan ini? Tanaman yang kupandangi adalah sebuah pohon pepaya yang kemarin aku ceritakan.. Dia mengalami perubahan… Sebuah kain berwarna merah putih melambai-lambai diatasnya.. Ya Ampun, aku tak bisa menahan gelak tawaku.. Pohon pepaya itu… sekarang dijadikan sebagai tonggak tiang bendera… hahaha.. aku tak kuasa menahan tawaku.. Siapa sih yang tega melakukan hal ini? Terdapat kesalahan moral disini… Ups.. semoga aparat penegak hukum tidak ada yg tahu, bahwa sebenarnya… hummmm….

                   Kakakku memang kreatif, dia melakukan berbagai macam cara untuk menyelesaikan suatu perkara. Tahun dulu hal aneh juga terjadi. Masih berkutat dengan hal tiang bendera. Tahun lalu sesuatu menjadi tonggak tiang bendera, sesuatu benda yang panjang, diujungnya ada sebuah penggenggam bohlam lampu. Ya, kau tahu kan alat untuk memasang lampu di tempat yang tinggi. Kakakku menggunakan benda itu karena kami tidak punya tongkat yang panjang. Ya, begitulah kehidupan kami, selalu diliputi dengan hal yang lucu. ^-^

Hari Ini

Indonesia MerdekaHari ini adalah hari selasa, bertepatan dengan tanggal 16 Agustus 2011. Apakah kamu tahu hari apakah besok? ya, besok adalah hari rabu, tanggal 17 Agustus, hari raya kemerdekaan Indonesia. Tak terasa Indonesia akan merdeka yang ke-66 kali. Aku sebagain warga negara Indonesia sangat bahagia 😀

Pohon Pepaya Part I

Pohon pepaya, didengar dari namanya saja kita bisa membayangkan sebuah pohon yang jangkung dengan daun-daun lebar yang menghiasi dahannya, serta dihiasai dengan beberapa buah yang ranum. Pohon pepaya banyak dijumpai di daerah daratan tinggi karena pohonnya membutuhkan suhu yang lembab untuk bertahan hidup. Pohon pepaya cara penanamannya cukup mudah sekali. Itu sebabnya banyak orang yang menanamnya. Orang-orang desa banyak yang menanam pohon pepaya di pekarangan rumahnya. Sekedar untuk menghias pekarangan rumah, juga buahnya bisa dimakan ataupun dijual. Namun jika kamu menemukan pohon pepaya disebuah perumahan, maka itu adalah sesuatu yang aneh. Tapi tak mengapa, karena hal itu telah terjadi. Dan pada siapakah hal itu terjadi? Tanya siapa? Tanya saja padaku. Hahahaha… Ya, dirumahku terdapat beberapa pohon pepaya. Pohon itu tumbuh dengan suburnya diatas pekarangan yang hanya berukuran 2×0.5 meter. Tak butuh tanah yang luas untuk menanamnya. Toh dia mau saja tumbuh ditanah seluas itu. Hahaha.. Kasihan sekali ya pohon pepayanya…

Suatu kebahagiaan bagi kami, pemilik pohon pepaya. Yaitu ketika beberapa buah mulai bermunculan dari batangnya yang berigi itu. Kau tahu apa yang menarik? Ya, kau benar! Karena kami bisa menikmati daging buahnya yang manis dan lezat. Apabila buahnya sudah besar dan kulit luarnya sudah berwarna hijau kami mulai mencopotnya

Goodbye Days

Dakara ima ai ni yuku soki metanda
Pokketo no kono kyokou kimi ni kikasetai

Sotto Voryuumu wo agete tashikamete mita yo

Oh Good-bye days ima kawaru ki ga suru kino made ni so long
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Katahou no earphone wo kimi ni watasu
Yukkuri to nagarekomu kono shunkan

Umaku aisete imasu ka? tama ni mayou kedo

Oh Good-bye days ima kawari hajimeta mune no oku alright
Kakkoyokunail yasashi sa ga soba ni aru kara
La la la la la with you

Dekireba kanashii omoi nante shitakunai
Demo yatte kuru deshou?
Sono toki egao de Yeah hello! my friend nantesa
Ieta nara ii no ni…

Onaji uta wo kuchizusamu toki soba ni ite I wish
Kakkoyokunail yasashi sa ni aete yokatta yo

La la la la Good-bye days

I remember you

Kaze wa mou tsumetai keredo
Natsukashii sora no nioi ga shita n’ da
Ho-mu kara umi ga mieru
Kono basho de kimi wo sagashiteru

Kisetsu hazure no sa-fubo-do ni
Ano natsu wa kitto ikiteru

Taiyou wa zutto oboete ita hazu sa
Nee kikoeteru?

* Namida wa misenai tte kimi wa sou itte
Boku-tachi wa futari te wo futta
Sayonara wa iwanai dakara te wo futta
Yuuyake ni kieta I remember you
[ Lyrics from: http://www.lyricsmode.com/lyrics/y/yui/i_remember_you.html ]
Sabita gita- kakaeru tabi ni
Ano uta ga mune no oku wo tsukamu kedo
Ima mo mada saenai hibi
Kono basho de boku wa sugoshiteru

Dakedo omou n’ da dareka no tame ni
Kitto bokura wa ikiteru

Taiyou ga kitto oshiete kureta n’ da
Nee kikoeteru?

*
Are kara no boku wa aikawarazu dakedo
Hon no sukoshi jishin ga aru n’ da yeah…

Namida wo koraeteru yakusoku dakara
Dare yori mo tsuyoku naranakucha
Sayonara wa iranai datte me wo tojite
Sugu ni aeru I remember you

Vampire Wit

“No…” I felt my eyes tear up and my heart beat speed. This was it for me. I fell to my knees. “Please…I can’t. I don’t wanna go there. I’d rather die…” The last part came out a whisper as the tears fell. It was strange. The smile he gave…I’d have to be crazy to think it was kind. A kind smile from a vampire to a human…it had to be a trick, or my mind snapped from the fear.

“I was telling the truth. I’m sorry I had to chase you here, but I didn’t want anyone else to find you and you don’t seem to want to listen.” He took a step forward; my eyes widened a bit and he let out a soft sigh. “Really, you should calm down. I won’t hurt you.”
I sat up a bit, my back against a wall, “How do I know that?”
He sat down where he was, “Let’s talk. I don’t think it’s very safe to stay here long…but if it will help calm you down.” He gave a shrug.
I looked around a bit, “I don’t wanna stay here…can we…”
“Would you feel better back at the tree line?”
I nodded but found I couldn’t get myself to stand up; on the other hand, he had no problem with it. He had gotten up and was heading to me. Each step seemed careful, like he didn’t want to move too fast…like when you try and get a stray dog or cat to trust you enough to pet it. Is that what I am? A stray?
He came over and held his hand out to me, “I know a safe spot and it’s at the tree line.”
I took his hand and he pulled me up easily, “This should be where I say I wanna go home…”
“You don’t have anywhere, do you? No group?”
“I’m on my own…a stray.” He was keeping me up as we walked; all the running had me weak. “Why don’t you wanna hurt me?”
“I think it isn’t right. Don’t get me wrong, you humans taste the best. I’ve just found a nicer way of feeding myself.”
I was walking more on my own now but…didn’t find myself in as much of a hurry to get away from him. “Kaylia.”
He gave me a smile, just barely showing off his fangs, “Wit.”
“So…how do you…”
“I help humans. I take them supplies, save ones like you, keep the groups safe. In return, without my having to have asked, they supply me with blood.”
“Is that your plan? Take me to one of them?” Once we made it to the woods we went in a few feet and found somewhere to sit.
“You’re a lot calmer. Your heart beat is more normal.”
“You could have gotten me long ago…and…I don’t know. ..Is your plan to take me to a group you have saved?”
He chuckled, “You sound like you don’t want to go.”
“I don’t. I’m fine getting by my way.”
“And what if it’s not me who finds you next time you make a run into the city area?”
“I… Is there a plan C?”
“It may or may not be as safe. But you could live with me. I can help keep you safe.”
“Are you kidding?”
“No. I can’t tell what it is…but you seem interesting.”
“That’s the reason I should pick up and go live in the vampire city in a vampire’s house?”
He smiled, “It sounds crazy said like that.”
“What would be the point? It would be just as dangerous for you to be found keeping a human.”
“We can make a deal. You get to live in my house where I can watch out for you and keep you safe and… What do you want your end of the deal to be?”
“I don’t really have much…except…blood. I can be your blood. You wouldn’t have to wait for your supply. Would that work?”
“Hmmmm…” He reached up and ran a hand through his hair. “That sounds good.”
“Does it hurt?”
“Hurt?” he raised a brow at me, “Does what hurt?”
“When you bite, take blood, does it hurt?”
He took a deep breath and seemed to be thinking, “Mmmmm… You don’t have to do it that way.”
I tilted my head, “I thought-”
“They draw blood from people in the groups that are willing and I pick them up on times I’m out helping. Like a trade.”
“I wouldn’t mind. It would make my side of the deal better right?”
His eyes seemed to brighten, “It would. It would make it a lot better.”
“You miss the bite, don’t you?”
He gave a smirk, “It wouldn’t creep you out to hear the answer?”
I thought for a second, “No. I don’t know why but I’m starting to trust you.”
“I do miss the bite; being able to feel the pulse from a heart pumping hot blood. Having the proof right in my arms that my meal is alive and fresh and willing to give just a part of their life to give me strength. Keeping me alive…” He was looking off and seemed a bit spaced, and then he shook his head a bit and looked back to me. “But I promise it only hurts for the people who struggle and I’ve never lost control of myself. I would never take more than I need or more than you can handle. If you just relax the most you get is a pinch. But you really don’t have to.”
“Is that trying to talk me into it? Cause I’ve already said I would.”
“So it’s a deal? You will live with me and you REALLY don’t mind…if I…” He gave a big grin, flashing his fangs, “bite?”
“Now you’re TRYING to creep me out.  …It’s a deal.”
“Well then. Let’s grab any stuff you have and head to your new home.”
“My stuff is far. I live—lived way out deep in the woods. No one goes out there and I have everything I need.”
He helped me back up and smirked, “We’ll be there and back in no time.” He scooped me up and took off into a run. “So what am I looking for?”
I gasped as he picked me up, “I… Umm look for a river. It’s way out and then you just follow it deeper into the woods. I’m sure you’ll know when you’re there.” I looked out then gave a soft moan, closed my eyes and moved my head to burry my face in his shoulder.
He gave a soft chuckle, “Motion sick?”
“I guess. I’m fine if I don’t try and look around.” I moved my arm up to his shoulder for a better hold. I guess I really didn’t like the speed.
“So. If you have everything you need and are so far out of the hunt zone, why where you in the city?” He held me closer to himself when he had felt me tighten my hold.
“I was..looking for a friend.”
……………………………………………………………………………