Archive for March, 2012

I miss U so bad my Sister…

Rabu, 23 Januari 2008 17:47
Assalamu’alaikum dikQ chayank…..baa kaba li dik…?
Uni kini sadang sibuk mengajukan judul dik……lumayan pusiang
Do’aan uni yo dik……..
uni sayang lili dik ……
Rajin2 baraja yo dik……
kalo ado waktu, kirim email untuak uni yo dik…..
Sorry…..surek li alun uni baleh juo lai do.
GOMEN NASAI……

JusT For Laughing

monyet merah

monyet merah

Barakallahu Lakuma wa Baraka alikuma

We’re here on this special day
Our hearts are full of pleasure
A day that brings the two of you
Close together
We’re gathered here to celebrate
A moment you’ll always treasure
We ask Allah to make your love
Last forever

Let’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice

Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

From now you’ll share all your chores
Through heart-ship to support each other
Together worshipping Allah
Seeking His pleasure

We pray that He will fill your life
With happiness and blessings
And grants your kids who make your home
Filled with laughter

Let’s raise our hands and make Dua
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
وجمع بينكما في خير
Baraka Allahu Lakuma wa Baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fee khair.
Barakallah hu lakuma wa baraka alikuma
Wa jamaah baina kuma fii khair.

بارك الله
بارك الله لكم ولنا

الله بارك لهما
الله أدم حبهما
الله صلّي وسلّم على رسول الله

الله تب علينا
الله ارض عنا
الله اهد خطانا
على سنة نبينا

Let’s raise our hands and make Du’a
Like the Prophet taught us
And with one voice
Let’s all say, say, say

بارك الله لكما وبارك عليكما
Barakallahu Lakuma wa Baraka alikuma

Sahabatku

Seiring berjalannya waktu..
Suka duka kita hadapi bersama..
Kau bercerita tentang dirimu..
Diriku bercerita tentang kisahku..
Hingga waktu bercerita tentang kita..
Kau dan aku saling melengkapi..
Karena kita sahabat sejati..
Cinta kita karena ridho Illahi..
Sahabatku.. doamu semangatku..
Janganlah bersedih karena aku masih disini..
Sahabatku.. hati kita satu..
Meski raga ini terpisah jarak dan waktu..

Rumah Kehidupan dan Rumah Kematian

                Hari ini aku menjauhkan diri dari bisingnya lalu lalang orang-orang. Diriku melangkah ke tempat dimana tak ada seorangpun kecuali diriku, Karen disanalah tempat orang tinggal dengan kebahagiaannya dan kedamaiannya.

                Diriku duduk ditempat itu. Ku lihat dan ku bayangkan desaku disana. Betapa kacaunya sekarang. Rumah-rumah berdiri megah, tinggi, menjulang langit. Jalan-jalan yang tiada henti dilewati sumber-sumber kesombongan manusia.

“zaman modern…” teriakku.

                Diriku duduk sambil membayangkan kerja manusia dikejauhan sana. Dan diriku menemukan mereka dalam keribetan dan ketegangan jiwa.

“demi uang…” teriak mereka.

“demi hidup…” teriak yang lain.

                Didalam batinku aku berusaha melupakan apa yang menimpa mereka, dan diriku memalingkan mataku kearah kampung kedamaian. Disana yang ku dapati cuma onggokan tanah, batu nisan yang dikelilingi pohon-pohon dan bunga kamboja. Lantas diriku merenung.

 

Desaku telah menjadi kota.

Indah dalam pandangan mata.

Semua ada dan tersedia.

Bahagia bagi sebagian mereka.

 

Desaku telah jadi kota kehidupan

Disana terjadi kesibukan

Kelelahan yang tiada penghabisan

Sesuatu yang takkan ada penyelesaian

 

Sedang disini kota kematian

Yang kutemukan cuma ketenangan

Diam dalam kebisuan dan keheningan

Terus… apa yang mereka banggakan?

 

Dikota kehidupan yang kudapati :

Harapan & keputus asaan

Rasa sayang & benci

Kemiskinan & kekayaan

Kepercayaan & kemunafikan

Sedang dikota kematian ku dapati…? Entah… aku tiada tahu… yang tahu cuma Tuhan-ku… Karena kematian belum menjemputku, tapi suatu saat, pasti aku akan singgah di kota kematian. Disanalah kelak kota abadi yang kutemukan.

Lamunanku berhenti…

                Tiba-tiba mataku melihat kedatangan iring-iringan orang, di belakang sebuah peti mati yang dibawa sebuah mobil. Peti mati yang mahal, terbuat dari kayu dan besi yang dibuat sedemikian rupa… Peti mati penuh ukiran karya pengukir yang hebat. Peti mati orang kaya dan berkuasa. Pengiringnya sangat banyak, dari berbagai macam lapisan masyarakat…

                Yang mati orang terkenal, terpandang dan terhormat. Suasana haru, senyap penuh derai air mata. Sesegukan tangis.. Ketika peti mati di turunkan pemandangan orang berpakaian hitam, berbelasungkawa, penuh duka cita. Dipimpin oleh seorang yang alim. Orang-orang berdo’a dengan nada-nada yang indah. Benar-benar upacara kematian yang megah. Sesaat kemudian orang-orang menyingkir, Nampak sebuah batu nisan pualam karya pemahat dan tukang batu yang tersohor keindahannya. Disekelilingnya ditaruh bunga yang disusun terampil oleh tangan-tangan ahli. Setelah upacara penguburan selesai, kemudian iring-iringan itu pergi meninggalkan pemakaman. Suara hening lagi.

                Aku kembali merenungkan apa yang baru saja aku lihat.

“manusia dengan rumah yang indah. Didunia ia punya rumah mewah… sedang dialam kematian ia punya rumah yang megah” gumamku pelan.

 

Ketika aku akan beranjak meninggalkan tempat itu, mataku kembali dikejutkan oleh kedatangan empat pria yang memikul keranda. Dibelakangnya nampak seorang perempuan dengan pakaian lusuh. Mengikuti seraya menggendong anaknya yang menetek.

                Nampak seorang anak perempuan yang tak lain adalah juga anak ibu itu, tak henti-hentinya ia menangis. Sambil memegangi tangan ibunya. Cuma itu, hanya itulah iring-iringan penguburan. Seorang pria miskin, seorang pria hina ditempat itu.

                Seorang istri mencurahkan air mata kepedihannya dan bayi yang menangis, karena tangis ibundanya. Serta anak perempuan yang menangis kehilangan ayahnya dalam kepedihan dan kepiluan. Keempat orang itu lalu memasukkan mayat itu ke liang lahat. Mayat malang itu ditimbun tanah tanpa penghalang apapun. Penguburan itu akhirnya selesai, dan berakhir dengan sebuah gundukan tanah. Tanpa batu nisan, tanpa bunga. Kemudian mereka pulang dalam kebisuan. Sedang anak perempuan bermata sembab itu berkali-kali menoleh kebelakang. Seakan-akan ia tak rela ayahnya pergi. Matanya masih basah, menatap tempat peristirahatan terakhir ayahnya.

“kemana aku harus pulang…?” pikirku tentangnya.

                Setelah itu mereka hilang dibalik pohon-pohon. Aku tiada dapat menahan air mataku.

“mereka pasti tidak punya rumah…” lalu aku menatap kota kehidupan.

“itu sebab sikaya dan berkuasa…” dan kearah kematian, akupun berkata,

“itupun karna sikaya dan berkuasa…”

“lantas dimana ya… illahi.. ya Allah… rumah si miskin tanpa daya itu…?”

                Setelah berkata itu, aku berjalan pelan meninggalkan kampung kedamaian itu. Kutatap langit biru yang cerah, kutanya semilir angin. Kurasakan harumnya semerbak bunga, kulihat pohon-pohon… Semua diam…

`Dan sebuah suara di dalam diriku berkata

“nun jauh disana…”

 

Salatiga 07-11-2011

Thanks to = kahlil Gibran, jallaludin ar rumi untuk advice dan kosakata indahnya

 

“cerita ini cuma nasehat, untukku dan siapapun. aku tahu dunia ini cuma kesenangan yang menipu. hidup bahagia cuma diakhirat… let’s make  happiness in the world and heaven.. with me together forever…”

Semoga bermanfaat…

Nonton 3 IDIOTS

Kemarin malam aku begadang sampe jam 11.30 malam. Agendaku malam itu yaitu menonton film 3 idiots, kamu udah pernah nonton film itu belum? kalo sudah kamu pasti merasakan seperti yang aku rasakan, yaitu ketawa, nangis dan terharu.. hiks hiks.. aku rekomendasikan kamu buat nonton film itu karena filmnya bagus, menggugah rasa kemanusiaan bangeeet… cool deh filmnya. Meskipun aku dah nonton film ini berkali-kali, tapi tetep nggak bosen…

nah, balik ke tema, sekarang aku mau lanjut cerita.

abis nonton 3 idiots, mataku nggak bisa dipejam, mungkin gara2 efek abis nonton film sampe ketawa n menangis kali ya? kebayang2 akan mimpiku untuk menjadi penulis, penulis yang berbakat, memiliki jiwa dakwah di setiap coretan tulisanku. aku bayangin film 3 idiots lagi, ya Tuhan, kok bisa ya mereka bikin film yang Super HEBAT seperti itu.. Orang yang bikin ceritanya pasti pinter dan cerdas banget.. keren dech pokoknya…

What Should I do?

aku berusaha untuk menjadi lebih dewasa..
tapi kenapa mereka malah menghindariku?
mereka pikir aku masih spt anak kecil..

padahal aku sudah berusaha menjadi dewasa..
dengan menjaga omonganku..
menjaga sikapku..
menjaga tingkah lakuku..

ya Allah, apa yg salah dengan diriku?
apa aku tak pantas memiliki sahabat ya Allah.. 😦