Archive for the ‘al-qur’an’ Category

Surga Dan Derajat Penduduknya

surga

Surga dan Derajat Penduduknya

Ketahuilah saudaraku, bahwa daerah yg kamu mengerti tentang kesedihan dan kesusahan tidak lain adalah neraka.
Sekarang kamu diberi pengertian perkampungan lain, maka lihatlah kenikmatan dan kegembiraannya, yakni di dalam surga ALLAH Swt. Dan siapa yg jauh dari perkampungan ini tentu berada di perkampungan lain. Maka alangkah baiknya bila engkau punya rasa khawatir dan berpikir panjang akan penderitaan2 neraka Jahhim.
Dan berpikirlah dalam2 tentang kenikmatan selama-lamanya dalam surga tanpa bersusah payah.

Renungkanlah bahwa wajah2 mereka amat berseri penuh dengan kenikmatan ; diberi minum khamr murni, duduk2 diatas mimbar mutiara merah, dalam kemah2 yg terbuat dari mutiara putih dengan hamparan permadani hijau… dst..
Kenikmatannya tidak terukur oleh akal dan tidak terasakan oleh hati, sebab akal dan hati tidak akan mampu menangkap kenikmatan surgawi.

Yakinlah saudaraku, bahwa penghuninya tidak akan mati, dan kesusahan tidak akan menghantui penduduknya. Dan tidak mungkin ia senang dengan perkampungan dunia. Demi ALLAH! Andaikan dia tidak menanggung sesuatu, pasti dia akan lari meninggalkan dunia, sebab dunia selalu mengejarnya. Dia tidak akan mengutamakan sesuatu yang mudah habis, patah, dimana penderitaan merupakan keharusan.
Sebuah hadist melalui Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw. bersabda : “Malaikat pemanggil memanggil ; Hai penghuni surga, sesungguhnya kalian akan selalu sehat dan tidak merasa sakit selama-lamanya. Sesungguhnya kalian selalu muda dan tidak tua selama-lamanya. Dan sungguh kalian akan bersenang-senang dan tidak akan pernah susah selama-lamanya”.

ALLAH Ta’ala berfirman :

“Mereka diserukan (dengan suara) ; ‘Inilah surga yg kamu terima sebagai pusaka, disebabkan apa yg telah kamu amalkan”. (Qs Al A’raf : 43)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi Saw bersabda :

“Barangsiapa yg mendermakan sepasang harta di jalan ALLAH, maka dia dipanggil dari pintu shalat. Barangsiapa yg termasuk pemilik-pemilik puasa, dia akan dipanggil dari pintu puasa. Barangsiapa yg termasuk pemilik-pemilik sedekah, dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Dan barangsiapa termasuk pemilik-pemilik jihad, akan dipanggil juga dari pintu jihad”.

“Dan orang2 yg bertakwa kepada Tuhannya akan dibawa ke surga secara berombongan” (Qs. Az Zumar : 73)

Lantas anak2 (meninggal ketika masih kecil) menjemput para orang tuanya yg berkerumunan, laksana berkerumunnya anak manusia di dunia mengitari kekasihnya yg baru datang dari jauh. Anak-anak tersebut berkata : “Bergembiralah, ALLAH menyediakan kemuliaan seperti ini”.
Ali ra. berkata: “Salah seorang anak dari sekian anak tersebut berangkat menuju sebagian istri-istri penghuni surga dari kalangan bidadari yg matanya jeli bersinar. Anak-anak tersebut berkata: “Si Fulan telah datang”.
Si Fulan dipanggil dengan namanya saat masih di dunia. .Istri dari bidadari berkata :” Apa kamu sudah melihatnya?”. Kata si anak “Aku sudah melihat dia, dan dia ada dibelakangku”.
Hati amat lengah dan bergembira sampai2 terduduk di bandul pintu.

Penghuni surga sudah sampai di tempat tinggalnya, ia memandang ke dasar bangunan, disana ia melihat batu mutiara yg tembus pandang. Dibawahnya ada bangunan gedung berwarna merah, hijau, kuning dan dari segala macam warna. Ia memandang keatas bagian atap, laksana seperti kilat. Andaikan ALLAH tidak meletakkan Kekuasaan-Nya, maka pasti sakit dan buta matanya.

Iapun menundukkan kepalanya, dan istri-istri sudah ada disampingnya, gelas-gelas diletakkan, guling tersusun rapi dan permadani menawan hati dihamparkan. Iapun duduk dan berkata : “Segala Puji bagi ALLAH, yang telah menunjukkan ini (surga) kepada kami. Kami tidak akan memperoleh petunjuk kalau ALLAH tidak memberi kami petunjuk. (Qs. Al A’raaf : 43)
Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan) : “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan kepadamu?”.

Mereka (penduduk neraka menjawab) : “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu : “Kutukan ALLAH ditimpakan kepada orang-orang yang zalim”. (Qs. Al A’raaf : 44)

Perincian : Tentang Jumlah Surga.

Sabda Nabi Saw. menerangkan Firman ALLAH Ta’ala :

“Bagi hamba yg takut akan berdiri menghadap Tuhannya, ada dua surga” (Qs. Ar Rahman : 46)

Sabda beliau Saw. :

“Dua buah surga dari perak, termasuk perabotnya dan semua yg ada di dalamnya. Dua buah surga lagi dari emas, termasuk perabotnya dan semua yg ada di dalamnya. Dan tiada diantara penghuni surga yang mampu melihat Tuhannya, melainkan hanya Selendang Keagungan-Nya yg ada di surga Aden”.

Perhatikanlah pintu-pintu surga, dia amat banyak dan merupakan pokok-pokok ketaatan hambaNya, dan sebagaimana pintu-pintu menurut keimanannya.
Nabi Saw. bersabda :

“Pada hari kiamat aku akan datang di pintu surga, akupun mengetuk pintu itu. Penjaga surga berkata : “Siapa!”. Aku menjawab “Muhammad”.

Lalu dia berkata ;

“Hanya karena engkau, aku diperintah untuk tidak membuka pintu untuk seorangpun sebelum kamu”.

Kalau kamu mencari derajat yg tinggi, maka usahakan jangan sampai ada yg mendahului dalam hal ketaatan kepada ALLAH Swt. Sebab perintah ALLAH sudah jelas :

“Berlomba-lomba dan bermegah-megahlah dalam ketaatan”.

 

ALLAH Ta’ala berfirman : “Dan cepat-cepatlah kamu terhadap ampunan Tuhanmu”. (Qs. Ali Imran : 133)

Nabi Saw bersabda :

“Sesungguhnya pemilik2 derajat yg tinggi melihat mereka, yakni orang yang dibawahnya, sebagaimana kamu melihat bintang yg muncul di beberapa belahan langit. Dan sungguh, Abu Bakar dan Umar ra. ada diantara mereka serta diberi nikmat”.

Sabda Nabi Muhammad Saw. :

“Sesungguhnya di dalam surga ada tempat-tempat yg tinggi yg tercipta dari berbagai macam bahan. Semua bisa terlihat bagian luarnya, bagian dalamnya, bagian dalam tembus dari luar dan di dalamnya ada berbagai macam kenikmatan, kelezatan, kegembiraan yg sebelumnya tidak pernah terlihat, terdengar atau tersentuh dalam hati manusia”.
Kata Jabir ra. akupun berkata :

“Untuk siapakah tempat tinggal seperti ini?”
Sabda beliau Saw :

“Umatku akan mampu menempati dan aku akan memberikan kabar gembira buat kalian. Barangsiapa yg bertemu saudaranya dan memberikan salam, maka dia telah mensyiarkan salam. Barangsiapa yg memberikan makan istri dan keluarganya sampai mereka kenyang, maka dia sungguh telah memberikan makan. Barangsiapa yg berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berpuasa tiga hari setiap bulan, maka dia benar-benar telah mengabadikan puasa. Dan barangsiapa yg telah shalat isya’ akhir dan shalat shubuh berjama’ah, maka dia telah shalat pada malam hari disaat manusia sedang tidur”.
Nabi Saw. pernah ditanya mengenai firman ALLAH SWT :

“Dan tempat-tempat tinggal yg indah di surga Aden. (Qs. At Taubah : 72).

Maka sabda Nabi Saw :

“Ialah beberapa gedung dari mutiara Lu’lu’. Setiap gedungnya ada 70 rumah dari Yaqut merah. Setiap rumahnya ada 70 buah kamar dari Zamrud hijau, disetiap kamarnya ada tempat tidur, dan disetiap tempat tidur ada 70 hamparan dari berbagai warna. Dan setiap tempat tidur ada seorang istri bidadari yg bermata jeli. Setiap kamarnya ada 70 menu makanan, dan setiap menunya ada 70 macam makanan. Tiap-tiap kamar juga ada 70 pelayan putri yg masih remaja. Dan bagi setiap mukmin akan diberikan kekuatan untuk merasakan kenikmatan-kenikmatan itu setiap pagi”.

by: SmileHeaven / LNH

source:  Kitab Mukasyafatul  Qulub / Rahasia Ketajaman Matahati

author: Imam Ghazali

surga

KITA BERADA DI AKHIR ZAMAN

endoftheday

-AKHIR ZAMAN –

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah munculnya fitnah besar yang bercampur di dalamnya kebenaran dan kebathilan. Iman menjadi goyah, sehingga seseorang beriman pada pagi hari dan menjadi kafir pada sore hari, beriman pada sore hari dan menjadi kafir pada pagi hari. Setiap kali fitnah itu muncul, maka seorang mukmin berkata, “Inilah yang menghancurkanku,” kemudian terbuka dan muncul (fitnah) yang lainnya, lalu dia berkata, “Inilah, inilah.” Senantiasa fitnah-fitnah itu datang menimpa manusia sampai terjadinya hari Kiamat. Fitnah disini artinya adalah Fitnah Ujian keimanan dan Ujian dalam menghadapi godaan kemaksiatan dan dosa.

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِـي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، اَلْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِِمُ خَيْـرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي، فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا بِسُيُوفِكُمُ الْحِجَارَةَ، فَإِنْ دُخِلَ عَلَى أَحَدِكُمْ فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَيْ آدَمَ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan muncul banyak fitnah besar bagaikan malam yang gelap gulita, pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore hari, di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi hari. Orang yang duduk saat itu lebih baik daripada orang yang berdiri, orang yang berdiri saat itu lebih baik daripada orang yang berjalan dan orang yang berjalan saat itu lebih baik daripada orang yang berlari. Maka patahkanlah busur-busur kalian, putuskanlah tali-tali busur kalian dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Jika salah seorang dari kalian dimasukinya (fitnah), maka jadilah seperti salah seorang anak Adam yang paling baik (Habil).’” [HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak]

-MUNCULNYA FITNAH DARI ARAH TIMUR-

Sebagian besar fitnah yang menimpa kaum muslimin muncul dari arah timur, dari arah keluarnya tanduk syaitan. Hal ini sesuai dengan yang diberitakan oleh Nabi pembawa rahmat Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedangkan beliau menghadap ke arah timur:

أَلاَ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَـا، أَلاَ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَا هُنَـا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ.

“Ketahuilah sesungguhnya fitnah itu dari sana, ketahuilah sesungguhnya fitnah itu dari sana, dari arah munculnya tanduk syaitan (dari arah timur-ed.).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فيِ صَاعِنَا وَمُدِّنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَيَمَنِنَا. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللهِ؟ وَفِيْ عِرَاقِنَا. قَالَ: إِنَّ بِهَا قَرْنُ الشَّيْطَانِ، وَتَهِيْجُ الْفِتَنُ، وَإِنَّ الْجَفَاءَ بِالْمَشْرِقِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, ‘Ya Allah, limpahkanlah keberkahan bagi kami di dalam sha dan mudd kami, dan berilah keberkahan kepada kami pada negeri Syam dan negeri Yaman kami,’ lalu seorang laki-laki dari kaum berkata, ‘Wahai Nabiyullah? Dan pada Irak kami.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya di sana ada tanduk syaitan, fitnah berkecamuk di sana, dan sesungguhnya kekerasan hati terdapat di timur.’” [HR. Ath-Thabrani, dan para perawinya tsiqah.
Mukhtashar at-Targhiib wat Tarhiib (hal. 87), karya al-Hafizh Ibnu Hajar, tahqiq ‘Abdullah bin Sayyid Ahmad bin Hajjaj, cet. lama yang disebarluaskan oleh Maktabah as-Salam, Kairo, cet. IV th. 1402 H.]

Sampai saat ini senantiasa timur menjadi sumber fitnah, kejelekan, bid’ah, khurafat, dan atheisme. Faham komunis yang tidak mengakui adanya tuhan berpusat di negara Rusia dan Cina, keduanya ada di arah timur, dan datangnya Dajjal juga Ya’-juj dan Ma’-juj dari arah timur. Hanya kepada Allah kita me-mohon perlindungan dari segala fitnah yang nampak dan tersembunyi.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “ِAku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ.

‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’” [Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Zhuhuuril Fitan (XIII/13, al-Fath).]

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ.

‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’”[Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi (XVI/222-223, Syarh an-Nawawi)]

Ibnu Baththal berkata, “Semua yang terkandung dalam hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang telah kita saksikan secara jelas, ilmu telah berkurang, kebodohan nampak, kebakhilan dilemparkan ke dalam hati, fitnah tersebar dan banyak pembunuhan.” [Fat-hul Baari (XIII/16]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari ungkapan itu dengan perkataannya, “Yang jelas, sesungguhnya yang beliau saksikan adalah banyak disertai adanya (tanda Kiamat) yang akan datang menyusulnya. Sementara yang dimaksud dalam hadits adalah kokohnya keadaan itu hingga tidak tersisa lagi keadaan yang sebaliknya kecuali sangat jarang, dan itulah isyarat dari ungkapan “dicabut ilmu”, maka tidak ada yang tersisa kecuali benar-benar kebodohan yang murni. Akan tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya para ulama, karena mereka saat itu adalah orang yang tidak dikenal di tengah-tengah mereka.” [Fat-hul Baari (XIII/16]

Lebih dahsyat lagi dari hal ini adalah Nama Allah tidak disebut lagi di atas bumi. Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي اْلأَرْضِ: اللهُ، اللهُ.

“Tidak akan datang hari Kiamat hingga di bumi tidak lagi disebut: Allah, Allah.” [Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzahaabul Iimaan Akhiraz Zamaan (II/ 178, Syarh an-Nawawi)]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat tentang makna hadits ini:

Pendapat pertama : Bahwa seseorang tidak mengingkari kemunkaran dan tidak melarang orang yang melakukan kemunkaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkannya dengan ungkapan “tidak lagi disebut: Allah, Allah” sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma :

فَيَبْقَى فِيهَا عَجَاجَةٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا.

‘Maka yang tersisa di dalamnya (bumi) hanyalah orang-orang bodoh yang tidak mengetahui kebenaran dan tidak mengingkari kemunkaran.’ [Musnad Ahmad (XI/181-182, Syarh Ahmad Syakir), dan beliau berkata, “Sanadnya shahih.]

Pendapat kedua : Sehingga tidak lagi disebut dan dikenal Nama Allah di muka bumi. Hal itu terjadi ketika zaman telah rusak, rasa kemanusiaan telah hancur, dan banyaknya kekufuran, kefasikan juga kemaksiatan.” [An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/186) tahqiq Dr. Thaha Zaini. ]

Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَدْرُسُ اْلإِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لاَ يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلاَ صَلاَةٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ وَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ k فِـي لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقَى فِي اْلأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ: الشَّيْخُ الْكَبِيرُ، وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ؛ يَقُولُونَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ فَنَحْنُ نَقُولُهَا: فَقَالَ لَهُ صِلَةُ: مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَهُمْ لاَ يَدْرُونَ مَا صَلاَةٌ، وَلاَ صِيَامٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ رَدَّدَهَا عَلَيْهِ ثَلاَثًا، كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: يَا صِلَةُ! تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ، ثَلاَثًا.

“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan pada pakaian sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, tidak juga shalat, tidak juga haji, tidak juga shadaqah. Kitabullah akan diangkat pada malam hari hingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun, yang tersisa hanyalah beberapa kelompok manusia: Kakek-kakek dan nenek-nenek, mereka berkata, ‘Kami men-dapati nenek moyang kami (mengucapkan) kalimat ini, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah’, maka kami pun mengucapkannya. Lalu Shilah berkata kepadanya, “(Kalimat) Laa Ilaaha Illallaah tidak berguna bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji, dan tidak juga shadaqah. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian beliau mengulang-ulangnya selama tiga kali. Setiap kali ditanyakan hal itu, Hudzaifah berpaling darinya, lalu pada ketiga kalinya Hudzaifah menghadap dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari Neraka (sebanyak tiga kali).” [Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan bab Dzahaabul Qur-aan wal ‘Ilmi (II/1344-1245), al-Hakim dalam al-Mustadrak (IV/473]

– Tim Ustadz Yusuf Mansyur –

Tata Cara Sholat Yang Benar

Dalam kehidupan sehari-hari, sholat sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat Islam. Sholat adalah tiang agama. Tanpa sholat, maka hidup akan percuma. Sholat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.

Nah, kita tahu sendiri sholat bacaannya seperti apa. Karna kita mengamalkannya didalam kehidupan sehari-hari. Namun ada sebagian dari kita atau mungkin diri kita sendiri yang mengerjakan sholat dan membaca bacaan sholat yang masih keliru. Apabila bacaannya keliru, maka artinya juga keliru. Maka dari itu, disini saya akan menghadirkan sebuah materi TATA CARA SHOLAT yang benar, sehingga kita bisa membaca bacaan sholat dengan fasih dan benar. Semoga kita bisa memperbaiki yang salah 🙂

Sebelum Shalat hendaknya kita berwudhu terlebih dahulu karena wudhu termasuk syarat sah Shalat.

1. Berdirilah tegak menghadap Kiblat.tata cara shalat berdiri tegak

Niatlah sesuai dengan Shalat yang ingin kita kerjakan. contoh disini Shalat Magrib.

Ushalli fardhal maghribi tsalaatsa raka’aatim mustaqbilal qiblati adaa-an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’aalaa

Niat Shalat Shalat Fardhu

tata cara shalat 2 takbir

2. Bacalah takbiratul ihram (Allāhu Akbar) dan bersamaan dengan itu angkatlah kedua tangan Anda seperti terlihat di gambar

tata cara shalat 3 bersedekap3. Kemudian membaca do’a iftitah,
Contoh salah satu do’a iftitah :

Allahu akbar kabiiraw wal’hamdulillaahi katsiiraw wasub”haanallaahi bukrataw wa-ashiilaa. Inni wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal-ardla haniifam muslimaw wamaa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wanusukii wamah’yaaya wamamaatii lillaahi rabbil ‘aalamiin laa syariika lahuu wabidzaalika umirtu wa’ana minal muslimiin.”

lalu baca ta’awwudz (a’udzu billahi minasy syaithanirrajim) , kemudian membaca Al-Fatihah dan apabila telah selesai dia membaca aamiin.

Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

Kemudian bacalah satu surah dari surah-surah Al-Quran. Bisa tidak sempurna ( beberapa ayat bila surah panjang seperti Albaqorah) namun sebaiknya sempurna bila surahnya pendek (Seperti Surah di Juz 30). Contohnya:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

(Bismillāhirrohmānirrohīm)

idzaa jaa-a nashru allaahi waalfathu
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
wara-ayta alnnaasa yadkhuluuna fii diini allaahi afwaajaan
2. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
fasabbih bihamdi rabbika waistaghfirhu innahu kaana tawwaabaan
3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

tata cara shalat takbir sebelum ruku

4. Setelah itu lakukanlah Ruku Dengan diawali takbiratul ihram ( Allahu Akbar )

tata cara shalat ruku5. Saat Ruku Bacalah:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

tata cara shalat 2 takbir

6. Kemudian bangunlah dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allōhu liman hamidah)

”Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya”

sehingga tegak berdiri dalam keadaan i’tidal, kemudian membaca do’a :
“Rabbanaa lakal chamdu mil-ussamaawaati wamil-umaasyi’ta min syai-in ba’d”
artinya “Wahai Tuhan kami, bagiMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu”

tata cara shalat sujud7. Setelah itu, sujudlah dan baca:

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

tata cara shalat, duduk di antara dua sujud8. Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih) atau

“Rabbiqhfirlii warchamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii” artinya: “Wahai Tuhanku ampunilah aku,kasihanilah aku,cukupilah kekuranganku, angkatlah (derajat)ku beri rizqilah aku,beri petunjuklah aku, sehatkanlah aku dan ma’afkanlah aku.”

tata cara shalat sujud

9. Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

tata cara shalat, duduk di antara dua sujud10. Duduklah sejenak setelah bangun dari sujud dan sebelum berdiri untuk melanjutkan rakaat berikutnya dan dapatkan tumaninah.

Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat kedua sambil membaca Takbir (Allahu Akbar )

tata cara shalat 2 takbir===== mulai rakaat ke dua ======

tata cara shalat bersidekap

11. Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

Kemudian bacalah satu surah dari surah-surah Al-Quran. Bisa tidak sempurna ( beberapa ayat bila surah panjang seperti Albaqorah) namun sebaiknya sempurna bila surahnya pendek (Seperti Surah di Juz 30). Bacaan surah pada rakaat pertama dan kedua hendaklah berbeda. Contohnya: Al-Ihklas:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَ لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Bismillāhirrohmānirrohīm Qul huwallōhu ahad ▪ Allōhush shamad ▪ Lam yalid wa lam yūlad ▪ Wa lam yakul lahū kufuwan ahad)

tata cara shalat 2 takbir

12.Setelah itu lakukanlah Ruku Dengan diawali takbiratul ihram ( Allahu Akbar )

tata cara shalat ruku 13. Saat Ruku Bacalah:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

tata cara shalat 2 takbir

14. Kemudian bangunlah dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allōhu liman hamidah)

”Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya”

sehingga tegak berdiri dalam keadaan i’tidal, kemudian membaca do’a :
“Rabbanaa lakal chamdu mil-ussamaawaati wamil-umaasyi’ta min syai-in ba’d”
artinya “Wahai Tuhan kami, bagiMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu”

tata cara shalat sujud 15. Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

tata cara shalat, duduk di antara dua sujud16. Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih) atau

“Rabbiqhfirlii war’hamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii” artinya: “Wahai Tuhanku ampunilah aku,kasihanilah aku,cukupilah kekuranganku, angkatlah (derajat)ku beri rizqilah aku,beri petunjuklah aku, sehatkanlah aku dan ma’afkanlah aku.”

tata cara shalat sujud

17. Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya seraya membaca bacaan sujud di atas

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

tata cara shalat, duduk tasyahud awal18. Setelah itu, duduk tasyahhud awal dan baca bacaan tasyahhud awal / pertama sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

.

==== mulai rakaat ketiga ====

tata cara shalat 2 takbir

19. Berdirilah kembali untuk melaksanakan rakaat ketiga sambil membaca Takbiratul Ihram

(Allahu Akbar)

tata cara shalat 3 bersedekap

20. Bacalah surah Al-Fātihah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ، إيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

(Bismillāhirrohmānirrohīm ▪ Alhamdulillāhi robbil ‘Ālāmīn ▪ Arrohmānirrohīm ▪ Māliki yaumiddīn ▪ Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn ▪ Ihdinash shirōthol mustaqīm ▪ Shirōthol ladzīna an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhūbi ‘alaihim waladh dhōllīn)

tata cara shalat ruku

21. Setelah itu lakukanlah Ruku Dengan diawali takbiratul ihram ( Allahu Akbar )

tata cara shalat ruku 22. Saat Ruku Bacalah:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

tata cara shalat 2 takbir

23. Kemudian bangunlah dari ruku’ dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allōhu liman hamidah)

”Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya”

sehingga tegak berdiri dalam keadaan i’tidal, kemudian membaca do’a :
“Rabbanaa lakal chamdu mil-ussamaawaati wamil-umaasyi’ta min syai-in ba’d”
artinya “Wahai Tuhan kami, bagiMu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi serta sepenuh apa saja yang Engkau kehendaki setelah itu”

tata cara shalat sujud 24. Kemudian sujudlah seraya membaca bacaan sujud di atas

سُبْحًانَ رَبِّيَ اْلأعْلَى وَبِحَمْدِهِ

(Subhāna rabbiyal a’lā wa bihamdih)

tata cara shalat, duduk di antara dua sujud25. Kemudian duduklah di antara dua sujud seraya membaca:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّيْ وَ أتُوْبُ إلَيْهِ

(Astaughfirullōha rabbī wa atūbu ilaih) atau

“Rabbiqhfirlii warchamnii wajburnii warfa’nii warzuqnii wahdinii wa’aafinii wa’fu ‘annii” artinya: “Wahai Tuhanku ampunilah aku,kasihanilah aku,cukupilah kekuranganku, angkatlah (derajat)ku beri rizqilah aku,beri petunjuklah aku, sehatkanlah aku dan ma’afkanlah aku.”

tata cara shalat sujud 26. Kemudian sujudlah untuk kedua kalinya Saat Ruku Bacalah:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ

(Subhā robbiyal ‘azhīmi wa bihamdih)

tata cara shalat duduk tasyahud akhir27. Setelah itu, duduklah dan baca bacaan tasyahhud akhir sebagai berikut:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكََ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ، أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ

(Asyhadu an lā ilāha illallōhu wahdahū lā syarīka lah ▪ Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh ▪ Allōhumma shalli ‘alā Muhammadin wa Āli Muhammad)

Lanjutkan dengan doa tasyahud akhir:

kamaa shollaita ’alaa Ibroohiim wa ‘alaa aali Ibroohiim innaka hamiidun majiid,
wabaarik ‘alaa Muhammad wa’alaa aali Muhammad,
kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim wa’alaa aali Ibroohiim innaka hamiidun majiid

perhatikan posisi kaki kiri tidak di duduki / melewati hingga berada di bawah kaki kanan,jari jari kaki kanan di tekuk kedepan/menghadap kiblat

tata cara shalat duduk mengucapkan salam ke kanan

28. Setelah tayahhud akhir tengoklah kekanan sambil ucapkan salam

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

(Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh)

29. Setelah menengok kekanan, tengoklah sebelah kiri  sambil ucapkan salam

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

(Assalāmu’alaikum wa rahmatullāhi wa barakātuh)

inilah bimbingan shalat magrib lengkap dari awal sampai akhir.

Catatan:

1. Bila kita akan menunaikan ibadah Shalat Subuh atau Shalat Sunah dua rakaat, Maka pada  Tasyahhud Awal(18) diganti dengan Tasyahhud Akhir (27). Kemudian langsung mengakhiri Shalat dengan sebelumnya mengucapkan salam ke kiri dan ke kanan.

2. Bila kita menunaikan Shalat fardhu Empat rakaat ( Dzuhur, Asyar, Isya). Maka setetah sujud  kedua pada rakaat ketiga (26) lanjutkan dengan dengan duduk Tumaninah (10). Setelah itu berdiri takbir (19) dan melanjutkan kembali dengan rakaat keempat..Ikuti panduan dari awal rakaat ketiga sampai akhir Shalat (dari 19 – 29).

Jazakumullah, Semoga bermanfaat

Qur’an di Malam Syahdu

Qur’an di Malam Syahdu

Tengah malam syahdu

Ayat demi ayat-Mu

Berloncatan tembusi gulita

Lewat si mulut mungil gadis kerudung merah

Subhanallah…

Kenapa hati ini kembali tenang

Kenapa air mata ini kembali bening…

Kenapa kali ini aku sesalkan dosa-dosa

Yang selama ini tak pernah ada…

Pantas…

Umar bin khattab pun lemah..

Pedang terkulai

Lepas dan pasrah

Dikala ayat-ayat berloncatan

Tembusi liang telinga

Tengah malam syahdu

Ayat demi ayat-Mu

Tembusi relung-relung hati

Kemudian berdiri kokoh sekali

Turunkan perintah dan kasih sayang

Hidup ini kembali gairah..

Tabah dan pasrah

 

***PS: ini adalah puisi dari seorang sahabat Ibu ku. aku sangat suka dengan puisi ini..