Archive for the ‘cerpen remaja islami’ Category

Cerpen : Aku Ingin Menjadi Istrimu

  “Aku ingin menjadi istrimu”, pintaku pelan. Tapi lelaki, tempat cintaku berlabuh setahun ini bagai tak mendengar. Ia terjerat hari-hari yang sibuk. Pergi pagi, dan pulang ketika senja usai. Tak jarang dini hari baru pintu rumahnya terdengar berderit.
  
  Aku tahu, karena hampir tiap malam aku menunggunya. Kesetiaan, yang membuahkan kantung yang menggelap di bawah mataku.
  
  “Kenapa matamu, Nia? Makin hari makin tak bersinar saja. Jangan terlampau sering begadang”. Mama seperti juga yang lain, tak pernah mengerti alasanku berjaga tiap malam. Tak ada yang memahami apa yang kutunggu. Kecuali Bandi, tempat cintaku bersandar. Ia tak pernah sekalipun menyinggung soal mataku yang kian cekung. Mungkin karena lelaki seperti dia mengerti jerih payah orang mencintai. Kesetiaan yang mengalahkan penglihatan fisik. Tidak seperti pasangan-pasangan lain, dalam angan kebanyakan orang, kami memang berbeda. Kesibukan Bandi menafkahi keluarganya, membuat lelaki itu harus bekerja ekstra keras. Meskipun begitu, pertemuan kami rutin. Walaupun hanya sebentar sekali.
  
  Di luar waktu kerjanya sebagai wartawan, lelaki itu menyempatkan diri menulis cerpen, puisi, resensi, opini, apa saja, untuk banyak media. Komputer, ia belum punya. Itulah mengapa Bandi rajin berlama-lama di kantor. Dan sebagai pasangan yang setia, aku harus mengerti. Sosoknya yang pekerja keras, itu yang membuatku makin terpikat. Jatuh hati kian dalam. Lainnya?
  
  “Abang bisa mengetik di rumah. Kapan saja abang mau. Tak usah sungkan”. Minggu sore itu, dengan baju kurung yang baru selesai dijahitkan mama semalam, kami berbincang sebentar di teras rumah. Tapi tawaranku yang tak sepenuhnya tulus, hanya karena ingin bersamanya lebih sering, ditolaknya halus. “Jangan, Nia. Abang pulang dari kantor sudah malam. Tak enak sama orang tuamu”. Kalimat tegasnya menunjukkan kemandirian, dan mental yang bukan aji mumpung. Bukan tanpa alasan aku menawarinya mengetik, mengingat kami punya lebih dari enam komputer di rumah. Paviliun rumah memang sejak lama aku jadikan rental komputer dan warnet. Meski awalnya tak setuju karena orang tua ku berpikir kami tak kekurangan uang, toh rental yang ku kelola kemudian berjalan semakin baik. Uang mengalir, pelanggan puas. Di sisi lain, aku tak penah lelah menanti Bandi pulang. Tidak masalah apakah ia pulang lebih awal, seperti yang sesekali terjadi, atau bahkan menjelang pagi. Sosoknya yang kukuh
dengan ransel hitam di punggungnya, tak pernah terlewat dari mataku.           
  
  “Aku ingin menjadi istrimu, Bang”. Bisikku lagi.
  
  Tahun kedua berlalu, dan waktu makin meluruhkan hatiku atas sosok keras bernama Bandi. Lelaki tegap, dengan kulit kecoklatan yang baik hati dan perhatian. “Pagi-pagi begini sudah buka?”, aku mengangguk. Menyembunyikan debaran jantung yang gemuruh, dan napas tersengal karena berlari dari kamar, hanya untuk mengejar bayangnya. “Bang Bandi pun sepagi ini sudah jalan? Biasanya jam tujuh seperempat, kan?”. Lelaki itu tertawa. Giginya yang kecil-kecil berbaris rapi. Memberikan pemandangan yang membuatku jatuh cinta, lagi dan lagi. Perasaan yang membuatku seperti tak pernah merasa cukup mengambil kursus. Kemarin belajar masak, lalu bikin kue, kemudian menjahit, ahh apa lagi?. Biarlah yang penting aku bisa membanggakan Bandi. Di depanku lelaki pujaan itu masih tersenyum. Baru kemudian kusadari sesuatu yang membuatku tersipu. Apa kataku barusan? Tujuh seperempat? Ah pengamatan yang sedetail itu, sungguh memalukan! Pikirku terlambat. Tapi Bandi menutup perasaanku yang tak
karuan dengan senyum lebar, dan sebuah buku di tangannya. “Untukmu, Nia. Belum terlalu lama terbit. Bagus sekali isinya tentang–” Dan lelaki yang tadi berjalan tergesa-gesa, untuk sesaat seperti lupa bahwa ia sedang memburu waktu. Dengan antusias, kedua tangannya bergerak-gerak, memberiku gambaran sepintas isi buku yang disodorkannya.
  
  Wajahnya yang semangat. Aku menatapnya, dengan perasaan terjerembab. Kagum dengan sosoknya yang cerdas, sekaligus merasa beruntung karena aku diberi kesempatan mencintainya. Hari-hari kami sederhana namun indah. Ia membawakanku banyak buku, yang kubalas dengan setoples kue-kue buatanku sendiri. Begitu indahnya hingga tahun ketiga berlalu. Kemudian terlewat tahun keempat. Selama itu, aku tak pernah lelah mengungkapkan dan menyatakan betapa ingin aku menjadi istrinya. Bandi tak menjawab keinginanku. Aku menenangkan diri dengan berbagai pikiran positif. Barangkali kesibukan, mungkin ia belum merasa siap, ucapku menghibur hati, setiap kali perasaan ragu timbul. Tapi kesabaran akan penantian, boleh jadi hanya milikku. Sebab Mama kemudian seperti tak punya kerjaan lain, kecuali memburuku dengan kalimat itu. “Menikahlah, Nia. Apalagi yang kau tunggu?” Bandi! Tak ada yang lain. Dan tak bisa yang lain!
  
  Tahun berikutnya, Papa ikut mendesakku. “Anak Om Hasnan baik, Nia. Kehidupannya pun mapan. Dia direktur termuda, di perusahaan Om Hasnan”. Aku tidak sedikitpun tertarik. Lelaki yang kaya karena cucuran harta orang tua, mana bisa memenangkan hatiku? Pikiranku terbawa pada Bandi. Sosoknya, kerja kerasnya, peluh keringat yang tampak jelas masih menempel di dahinya, setiap melintasi jendela kamarku. Anak Om Hasnan mungkin baik, tapi dia tidak seperti Bandi. Lalu calon-calon lain disodorkan. Tetapi setiap kali, kepalaku makin terlatih menggeleng dan melahirkan helaan napas putus asa dari papa. Mama mendekatiku dengan cara serupa. Menawarkan calon demi calon yang dirasanya pantas, dan mengangkat martabat orang tua. Tapi selali saja kutemukan nilai minus pada mereka. Gilang, tak pernah serius. Herry terlalu adventurir buat seorang Nia yang pecinta rumah. Sementara Agus terlalu matematis. Cuma Bandi, yang cerdas dan memiliki sikap merakyat, yang merebut semua nilai plus,
bahkan dalam kesederhanaannya. Cuma Bandi, yang membuatku tak sungkan merendahkan harga diri dengan berkali-kali mengungkapkan harapanku. Tak pernah bosan membisikkan kalimat itu. “Aku ingin menjadi istrimu”. Namun seperti yang sudah-sudah, kalimatku hanya terbawa angin, dan menguap tanpa bekas. Bandi, seperti tak menyediakan tempat, untuk sebuah pernikahan.
  
  “Cinta”,
Suatu hari kudengar kalimat itu dari bibirnya. Jelas, tanpa keraguan. “Cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan menatap. Bukan begitu Nia? Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih harus saling mengemis. Cinta–
  
  Ia mendesah. Pandangan nya nanar. Aku bisa merasakan kesedihan hatinya hari itu. Tapi cintaku tak berkata apa-apa lagi. Ia pergi setelah lebih dulu menyodorkan sebuah buku yang membuatku menangis berhari-hari. Sungguh, belum pernah ada kisah asmara yang kubaca dan menorehkan begitu banyak kesedihan, setelah Romeo dan Juliet. “Bagus sekali, Bang. Nia sampai menangis dibuatnya”. Bandi hanya tersenyum tipis. Tangannya yang kokoh menerima buku yang kukembalikan. Tuhan, begitu ingin aku bersandar dalam rengkuhannya. Tapi tangan itu terlalu sopan, tak pernah menjamahku.
  
  “Cinta itu menghormati, Nia. Cinta tak saling memanfaatkan”.
  
  Aku mengangguk. Seperti biasa terbius oleh kata-kata Bandi. Terpesona oleh akuratnya kata dan laku lelaki itu. Bandi tak menyentuhku, bukan tak cinta. Justru karena ia cinta. Bukankah seperti katanya, cinta itu tak kurang ajar? Cinta itu menghormati? “Bang, aku ingin menjadi istrimu”, bisikanku mulai bercampur isak. Ah, betapa inginnya. Kenapa Bandi tak bisa mengerti? Bukankah dua orang yang saling mencintai harusnya saling memahami, hanya dengan memandang? Lalu bertubi-tubi, kegembiraan yang menyedihkan itu datang. “Kak Nia, maafkan Ita”. Aku mengangguk. Meski sesudahnya aku perlu berhari-hari menumpahkan tangis dalam diam di bantalku. Lalu Riza, Nina dan terakhir– “Kak, Linda minta maaf”. Giliran adik bungsuku meminta. Aku mengangguk. Menahan air mata yang menggayut memberati mataku. Seharusnya aku bahagia, adik-adikku menamatkan kisah cinta mereka lebih dini. Pernikahan adik bungsuku dirayakan besar-besaran oleh kedua orang tua kami. Seolah mama dan
papa letih, dan memutuskan tak perlu menyimpan sedikit pun tabungan untuk anak mereka yang sulung. Tapi tahun memang berlalu secepat malam tiba. Aku tak menyadari kapan mama dan papa mulai berhenti memintaku menikah. Yang kutahu tak ada lagi nama-nama yang mereka sodorkan padaku. Awalnya hal itu membuatku merasa bebas, ya– bebas menunggu Bandi. Baru kemudian kusadari hatiku yang hempas, anehnya oleh sesuatu yang tak pernah berubah.
  
  Bandi tak berubah sedikitpun. Masih seperti dulu. Pergi jam tujuh seperempat, dan pulang ketika malam tenggelam. Sosoknya pun masih sama, sabar, kuat dan perhatian. Aku pun tak pernah berubah. Masih menemaninya dengan setia. Berdandan rapi di pagi hari untuk melepasnya pergi ke kantor. Malamnya, menanti kepulangan lelaki itu meski hanya lewat gorden jendela kamarku. Tidak tahukah Bandi bahwa kedua mataku ini hanya bisa terlelap setelah memastikan sosoknya yang gagah memasuki rumah? Tapi ketiadaan kemajuan dalam hubungan kami tidak membuatku berhenti meminta. Seperti juga malam itu. “Bang, aku ingin menjadi istrimu”, kataku pelan dengan air mata meleleh. Tapi Bandi meski tetap ramah dan baik hati, seperti yang sudah-sudah tak juga menanggapi. Padahal kesabaranku, bakti dan kesetiaanku– lalu kue-kue yang selalu berganti resep setiap minggu?
  
  “Bikin kue apa lagi sepagi ini, Nia?”. Aku tak menjawab pertanyaan mama. Sudah pukul tujuh lewat sepuluh. Lima menit lagi Bandi akan lewat, dan aku tak boleh terlambat. Kakiku bergegas ke pintu depan. Ditanganku, setoples kue coklat bertabur kismis, tampak manis dan menggoda. Bersyukurlah dalam kesederhanaan. Dalam ketiadaan. Bersyukur dengan apa yang kita miliki. Bandi sering mengulang-ulang kalimat itu. Mungkin maksudnya supaya aku tak lagi berulang-ulang mengucapkan kalimat itu, keinginanku untuk menjadi istrinya. Aku mengangguk. Melambaikan tangan pada Bandi yang pagi itu melintas dengan banyak tas di tangan. Berikutnya adalah hari-hari yang tak kumengerti. Sebab Bandi tak pernah kelihatan lagi. Ia lenyap dan dengan cepat kusadari ketika malam itu hingga azan subuh menggema, aku tak pernah melihat lelaki tercinta itu memasuki rumahnya. Perasaan panik serta merta melanda diriku. Ya Allah, sesuatu mestilah menimpa lelaki terkasih itu. Tapi, kecuali aku, sepertinya
tak ada orang lain yang merasa kehilangan. Bahkan tidak ayah dan ibu, serta adik-adiknya yang enam orang itu.
  
  Aku mulai menangis. Selama beberapa hari bahkan tak ada sesuap nasipun yang bisa ku telan. Ketika sepekan lewat dan Bandi tak juga kembali, aku menenggelamkan diri dalam kamar. Menguncinya dan tak membiarkan siapapun mengusik kesedihanku. Bandi, sesuatu pasti terjadi pada dia! Batinku tak mungkin dibohongi. Keluarga Bandi pastilah hanya menghibur ketika mengatakan lelaki itu mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar di luar negeri. Tidak mungkin Bandi tak mengabarkan padaku infomasi sepenting itu. Bukankah aku cintanya, seperti dia cintaku? Setiap hari, kuhabiskan waktu dengan meringkuk di kamar, sementara mataku terus terpaku, mengintip dari balik gorden, mencari-cari bayangan Bandi yang kapan saja datang, mungkin dalam keadaan terluka. Oh Tuhan! Kedua mataku terasa penat karena terlalu banyak menangis dan berjaga. Aku tak lagi ingat makan, mandi, bahkan tak peduli sama sekali dengan kelangsungan rental yang kurintis. Bandi lebih penting dari itu semua! Mama dan Papa serta
adik-adik kutentu saja terlihat sedih. Tapi mereka sama sekali tak paham apa yang kurasa. Gelombang kepedihan, perasaan hampa, seolah hampir seluruh nyawaku tercerabut, membuatku tak memiliki keinginan untuk melakukan apapun.
  
  Syukurnya, melewati tiga bulan dalam masa-masa berduka, setitik harapan muncul. Bandi tak apa-apa. Perasaanku mengatakan ia masih hidup, dan bisa pulang kapan saja. Mungkin sebentar lagi. Lalu tubuhku dirasuki tenaga baru. Hari itu kuputuskan keluar kamar. Sinar matahari yang selama ini kumusuhi, segera saja menyipitkan mataku. Tapi kegembiraan meledak-ledak, mengalahkan semua keengganan. Cepat, seperti tak ingin kehilangan waktu, aku mengambil baju yang paling baik yang ku punya, lalu berlari ke kamar mandi. Menyeka tubuhku keras-keras dengan spon sabun, hingga bersih dan dipenuhi aroma harum sabun. Selepas mengenakan baju, kusemprotkan minyak wangi, lalu berhias secantik mungkin. Orang-orang yang tak mengerti mengatakan bedakku terlalu tebal. Aku hanya mencibir. Mereka tak mengerti sosok istimewa yang ku nanti. Tapi hari itu Bandi belum pulang. Tak apa. Yang adalah aku selalu siap, jika ia sewaktu-waktu datang. Bajuku harus rapi, tubuhku harus wangi, rambutku harus
selalu dikeramas tiap hari. Bedak, sedikit lipstick kucoretkan dibibirku yang akhir-akhir ini sering pecah-pecah. Aku tak ingin ada yang terlewat. Semua harus sempurna, ketika Bandi pulang nanti.
  
  Lelaki itu sudah pergi lama, ia pasti kangen padaku. Pada canda tawa kami, pada hubungan sederhana namun indah yang selama ini terjalin. Ia juga pasti rindu dengan kue-kue ku. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tak lagi membuat kue-kue dan menaruhnya di toples, untuk Bandi? Maka sejak hari itu, telah kutekadkan, supaya tak ada hari berlalu tanpa kue-kue baru yang kubikin. Bukankah sebentar lagi tahun baru tiba, dan Bandi mungkin akan pulang? Ketika tahun baru lewat, dan aku menunggui Bandi di depan pagar rumah kami hingga kedinginan, Mama menyelimuti tubuhku yang menggigil dengan selimut. Tapi aku tetap menunggu. Mungkin Bandi akan pulang ketika musim liburan. Mungkin bulan puasa tahun depan. Hmmm–, tidak! Aku tersenyum. Bandi akan pulang lebaran tahun depan, pasti! Pikiran itu membawa langkahku ke ruang dalam. Bukan ke kamar seperti harapan kedua orang tua ku. Pikiranku padat oleh banyaknya pekerjaan yang akan menungguku sampai Bandi pulang nanti. Membuat kue-kue
kesukaan lelaki tercinta itu. Juga baju baru. Sambil tanganku sibuk mengaduk adonan tepung terigu bercampur gula, keju dan entah apa lagi, pikiranku mengembara. Mengenang Bandi. Betapa rindunya. Besok dan besoknya lagi, kesibukan yang sama menungguku. Kue-kue dan jahitan baju baru. Setiap hari. Aku ingin siap ketika Bandi pulang. Aku ingin rapi, ingin cantik.
  
  Sedikitpun tak ada kesangsian akan kesetiaan Bandi padaku. Meski terdengar kabar Bandi telah menikah, atau Bandi sudah betah di luar negeri dan tak akan kembali, aku tak pernah percaya. Suatu hari Bandi akan pulang dan memenuhi permintaanku untk menjadi istrinya. Seperti yang selama ini selalu ku bisikkan dalam hatiku menjelang tidur. “Bang, aku ingin menjadi istrimu”. Dan aku tahu, Bandi mengerti perasaanku sepenuhnya. Permintaanku. Sebab cinta harusnya saling mengerti, hanya dengan memandang. (Bukan begitu Nia?) Cinta, harusnya tak perlu membuat dua orang kekasih saling mengemis cinta.
  
   *Karya Asma Nadia*

Kisah Nyata Yang Menyentuh : Bilakah Ajal Kan Menjemput?

flower

Sebuah cerita

Kukenal dia ketika aku semester awal S1 di fakultas Farmasi pada salah satu Universitas Swasta terbesar di kota M.

Nisa,  itulah namanya, kesan pertama yang kudapatkan tentangnya. Subhanallah Allah menganugrahkan keelokan padanya dengan mengindahkan rupanya. Nisa gadis yang sangat cantik, kulitnya putih bersih, wajah yang begitu sempurna dengan tahi lalat di matanya. Bola mata yang indah dengan pancaran kecerdasan yang begitu jelas.

Dia juga sangat wangi, wangi yang sangat lembut, yang sampai sekarang masih mampu kuingat. Penampilannya sama dengan teman-teman kuliahku, jilbab kecil yang dililit atau dipeniti dengan sangat rapi, dia sangat suka menggunakan jilbab merah dan pink, sangat cocok dengan kulitnya yang putih.

Awalnya aku hanya mampu mengaguminya sebagai teman yang cantik dan pintar. Namun aku tak begitu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Bukannya aku minder, namun pola pikir kami yang kurasa berbeda. Selain itu aku mendengar dari beberapa temanku, kalau Nisa anaknya sombong dan individualis. Padahal kegiatan dikampus terutama di Laboratorium membutuhkan kerjasama dalam team dan kelompok. Ada pula yang mengatakan kalau dia sok pinter dan gak mau disaingi.

Hal ini yang membuatku agak enggan mengenalnya lebih jauh. Hal lainnya karena aku seorang akhwat, selain dunia kampus, akupun disibukkan dengan amanah dakwah dimana-mana dan juga tarbiyah. Membuat waktuku betul-betul terkuras, sehingga kawan yang ku kenalpun hanya mereka yang juga bergelut didunia dakwah yaitu para akhwat-akhwat.

Namun aku kemudian merasa ada yang kurang dengan keseharianku, aku merasa dakwah fardiyah pada teman-teman yang pada dasarnya ku temui tiap hari sangatlah kurang. Padahal setiap harinya ku mengisi liqo dan membuat ta’lim dengan menghadirkan orang-orang yang tak kukenal.

Lalu bagaimana mungkin teman-teman bahkan sahabatku dikampus tak tersentuh dengan dakwahku. Maka kumulai melirik mereka, membuat kajian jum’at dikampus dan akupun bergabung di BEM fakultasku.

Ada yang menarik dalam tiap kajian jumat yang aku adakan. Yah, aku selalu menemukan sosok Nisa di sana. Bahkan terkadang dia datang lebih dulu dari teman-teman yang lain yang notabene akhwat. Satu hal yang ku ingat darinya, dia selalu shalat tepat waktu. Terkadang aku malu, ketika di lab aku kadang begitu antusias melakukan praktikum, sehingga kadang aku mengabaikan azan Dzuhur atau azar, maka Nisa pasti selalu menhampiriku dan membisikkan padaku kalau telah azan lalu mengajakku ke masjid atau ruang shalat di Lab, dan memintaku untuk meletakkan gelas kimia atau pereaksi kimia dari tanganku itu. Nisa, semakin membuatku penasaran.

Aku semakin tertarik mengenalnya lebih dekat, Alhamdulillah Allah memberiku kesempatan mengenalnya lebih jauh. Pada suatu semester baru, aku ditempatkan satu kelompok dengan Nisa. Kelompok praktikum untuk matakuliah yang sangat susah dan membutuhkan banyak waktu dalam menyelesaikan laporan dan tugas. Akhirnya kami memutuskan untuk mengerjakan tiap hari tugas itu di rumah Nisa, yang kebetulan mempunyai referensi buku yang lumayan banyak. Jadilah aku tiap hari kerumahnya. Nisa gadis yang sangat bersih, rapi, dan teratur. Aku malu jika membandingkan kamarku dengan kamarnya, hehe.. aku berantakan, dan seenaknya meletakkan barang, tapi Nisa, dia bahkan melipat tiap kantong pelastik di rumahnya dan menyimpannya pada kardus kecil, sangat rapi.

Nisa mempunyai seorang kakak laki-laki, itu aku tahu ketika melihat foto keluarga pada bingkai kecil di kamarnya. Nisa tinggal berdua dirumah itu dengan kakaknya, sedangkan orangtuanya tinggal dikampung. Namun ketika ku tanyakan tentang kakaknya, dia terlihat murung, dia cuma mengatakan kalau kakaknya tidak begitu dekat dengannya. Akupun tak mau terlalu mendesaknya untuk bercerita, aku tak mau membuatnya tak nyaman.. Namun aku cukup terkejut ketika tak sengaja aku melihat belasan botol obat didalam lemarinya, ketika kutanyakan, dia cuma tersenyum dan mengatakan hanya vitamin biasa.

Aku dan Nisa semakin akrab sejak semester itu, dan sejak itu tak jarang dia curhat padaku. Tentang semuanya, tentang teman-temanya yang menganggapnya sombong, tentang keluarganya, tentang pacar-pacarnya, aku termasuk akhwat yang tak suka mendoktrin teman-temanku tentang larangan pacaran, kubiarkan mereka bercerita padaku tentang itu, lalu aku mengikuti tiap perkembangan hubungan mereka, sehingga akupun mendapat kepercayaan mereka, barulah ketika mereka mulai bermasalah dengan pacarnya atau mempertanyakannya pendapatku tentang pacaran, baru aku menyelipkan nasihat-nasihat tentang itu, sehingga obrolan yang pada dasarnya nasihat itu lebih berkesan diskusi atau curhat buat mereka dan aku tak sok menggurui, dan tak sedikit akhirnya temanku memutuskan pacarnya dengan trik seperti ini hehe.. tapi ini rahasia yah..

Hingga suatu hari, pada awal semester baru lagi, aku dan Nisa sepakat untuk memprogram matakuliah yang semester lalu belum kami ambil, jadinya kami berdua harus kuliah denga yunior. Kuliahpun kami pilih hari sabtu pagi sebelum kuliah bahasa arab, hari yang bebas parktikum untuk kelas kami. Nisa punya kebiasaan untuk janjian denganku pada malam sabtunya lewat sms, dia akan menanyakan apakah aku akan ikut kuliah besok? Jika tidak, diapun malas untuk datang… hemm kebiasaan buruk, tapi juga wajar, mana ada yang betah kuliah dengan yunior

Suatu pagi dihari sabtu, selepas kami kuliah, sambil menunggu dosen dan teman-teman yang belum datang, kuliah berikutnya yaitu bahasa arab, aku duduk berdua dengan Nisa di depan kelas. Ruang kuliah sangat sepi, hanya ada aku dan Nisa yang datang cepat karena ada kuliah pagi. Waktu itu langit sangat mendung, bahkan gelap, pertanda hujan deras akan segera mengguyur kota M siang itu. Ada yang berbeda dari Nisa yang biasanya ceria, pagi itu dia diam dan sedikit murung, matanya sembab sangat jelas dia baru saja menangis. Aku lalu bertanya padanya ada apa? Dia hanya diam, dan menggeleng, akupun mendesaknya untuk bercerita. Hingga akhirnya dia lalu menyingkap roknya dan memperlihatkan betisnya. Allah, aku terkejut, begitu banyak memar di betisnya, lalu dia memperlihatkan lengannya, kulit putihnya kini berhiaskan lebam-lebam biru kehijauan. Ada apa denganmu teman?

Dia lalu bercerita, kalau sejak kecil dia menderita Epilepsi (ayan), jika penyakitnya kumat, kepalanya seakan dialiri jutaan watt listrik, begitu sakit sehingga jika dia tak tahan sakitnya, diapun kejang-kejang tak sadarkan diri, dia baru saja tadi pagi kambuh di kamar mandi ketika sedang mencuci, beruntung kakaknya masih di rumah, sehingga dia segera tertolong.

Semua badannya lebam dan memar karena terbentur tembok dan barang-barang saat kejang-kejang. Dia bercerita sambil menangis, dia harus menelan puluhan tablet penenang tiap harinya, yang jika terlambat sedikit saja dia konsumsi, akan membuat penyakit epilepsinya kambuh. Selain itu, tekanan dan kecapaianpun dapat menyebabkannya kumat. Dia malu jika penyakitnya kambuh ditengah banyak orang, bagaimana jika auratnya terbuka ketika dia tak sadarkan diri ketika kejang, dan itu telah sering terjadi. Dia lelah, kadang dia mempertanyakan kepada Allah, kenapa mesti dia yang mengalaminya, dia punya banyak cita-cita, ingin mempunyai apotek, ingin bekerja di Balai POM, dia ingin segera menikah dan punya anak. Namun ketika ia menyadari Epilepsi yang dideritanya dapat merenggut nyawanya kapan saja, dia lalu menangis dan sangat sedih.

Lalu kembali pertanyaan itu hadir, kenapa harus dia? Kenapa bukan orang-orang yang selama hidupnya hanya berbuat sia-sia dengan maksiat? Kenapa bukan orang yang tak menghargai hidupnya yang selalu ingin bunuh diri hanya dengan masalah picisan? Aku ingin lebih baik, masih banyak hal yang ingin aku capai.

Dia mengatakan padaku satu hal yang tak akan pernah kulupakan. “Aztri, kamu tahu? Kenapa selama ini begitu masuk azan, aku akan bergegas shalat, karena aku takut, jika aku menunda shalatku,lalu kemudian ternyata Allah membuat penyakitku kumat, dan lalu aku mati sebelum menunaikan shalat. Penyakitku bisa kambuh kapan saja, itu berarti aku dapat diambilNya kapan saja” katanya dengan isak tangis.

Sungguh, pemikiran yang sederhana, namun mampu menghempaskanku ke titik nol. Aku yang begitu paham makna takdir dan ajal, namun tak pernah memikirkan dengan begitu nyata. Aku kadang berfikir Ajalku masih sangat jauh, bahkan kadang tanpa aku sadari aku merasa hanya orang lain yang akan mengalami kematian. Bukan, bukannya aku tak percaya ajal, tapi ada kalanya kita begitu tenggelam dengan dunia sehingga kemudian melupakan tamu yang dapat datang kapan saja itu.. ajal… kematian..

Lalu Nisa pun mengatakan padaku, “Aztri, aku takut mati, aku takut tak mampu mempertanggung jawabkan perbuatanku selama hidup ini. Apa yang harus kukatakan pada Allah nanti. Aku mau mati dalam keadaan terbaikku, tapi bagaimana jika penyakitku kumat di kamar mandi, seperti tadi pagi? Aku tak mau mati di kamar mandi, tempat yang kotor, bagaimana jika aku dalam keadaan aurat yang terbuka, aku malu menemui Allah dengan keadaan seperti itu. Bagaimana jika Allah mengambilku ketika aku serangan dan aku tak mampu menyebut namanya karena dalam keadaan tak sadar? Aku tak mampu menahan air mataku, akupun ikut menangis. Baru kali itu aku merasa kematian begitu dekatnya. Tanpa sadar dalam hati aku berdoa “Ya Rabb, penguasa Alam semesta, berilah akhir yang baik pada kami..”

Sejak itu aku semakin dekat dengan Nisa, dia pun mulai mengikuti tarbiyah, dia mulai memanjangkan jilbabnya, yang tadinya dia lilit, kini dia mulai menutupkan ke dadanya. Kemana-mana aku bersamanya. Teman-temanpun heran melihatnya, bagaimana mungkin aku bisa tiba-tiba akrab dengannya.

Pada suatu sabtu pagi, aku ke kampus seperti biasa, hari ini ada kuliah dengan Nisa, namun yang aku herankan, sejak semalam aku menunggu sms Nisa, tapi tak ada satupun, akupun meng smsnya apa dia mau kuliah atau tidak, namun smsku pun tak dibalas sejak subuh. Aku pikir mungkin pulsanya habis. Sesampaiku di kampus, aku baru tahu kalu sabtu itu ada wisuda, jadi semua kegiatan perkuliahan di tiadakan. Aku mencari Nisa ke mana-mana, dari kelas ke kelas, ku tanya pada teman-teman apa ada yang melihatnya. Namun tak satupun yang melihatnya pagi itu. Aku lalu berfikir mungkin dia sudah tahu hari ini kuliah diliburkan maka dia tak datang kekampus. Aku pun pulang tanpa memikirkannya lagi.

Namun pada pukul 10 malam. tepatnya malam ahad, ketika aku sedang berkumpul dengan keluargaku, tiba-tiba telpon pun bordering, aku mengangkatnya tanpa prasangka apa-apa. Namunternyata yang menelpon adalah temen kuliahku, dia memberitakan berita yang seketika mampu melemaskan semua persendianku.. Nisa meninggal dunia, entah jam berapa, namun mayatnya baru ditemukan tadi jam 09.00 malam dalam keadaan kaku dan membiru, tertelungkup di kamarnya. Seolah aku tak berpijak di bumi, langit di atasku seolah runtuh.

Selanjutnya aku langsung menuju kerumahnya ku tahan air mataku seolah ini hanyaberita bohong, aku masih berharap menemukan Nisa di rumahnya dan menyambutku di depan pintu dengan senyuman seperti biasa. Namun sesampaiku disana, lorong ke rumahnya telah penuh dengan kerumunan warga setempat, raungan serine ambulans sejak tadi terdengar. Kusingkap kerumunan, orang-orang yang mengenalku dekat dengan Nisa segera memberiku jalan, bergegas ku ke ambulansnya, dan kutemukan sosok yang sangat kusayangi, sahabatku Nisa dalam balutan selimut, tubuhnya kaku dengan posisi tak biasa, wajahnyatelah membiru dan bengkak. Allah, apa yang dia khawatirkan terjadi. Nisa sahabatku, ada apa denganmu? Kenapa jadi begini?

Badanku tiba-tiba limbung di depan pintu ambulans, sebuah tangan menangkapku sambil membisikkan istigfar ke telingaku, ternyata dia salah seorang akhwat temanku dikampus. Dibimbingnya aku ke kamar Nisa, ku dapati kamarnya berantakan tak rapi seperti biasa, kertas berhamburan dimana-mana, obat-obatnya berserakan dimana-mana. Salah seorang temanku menceritakan padaku. Nisa baru ditemukan kakaknya tadi ketika dia pulang pukul 09.00 malam, tak ada yang tahu pukul berapa Nisa meninggal namun jika melihat kondisi kamarnya, dimana lampu yang masih menyala dan tirai yang masih tertutup, kemungkinan dia meninggal kemarin malam, hari itu dia sendiri di rumah, tak ada yang menemaninya. Barulah ketika kakaknya pulang pukul 09.00 malam dia menelpon dan HPnya berbunyi di kamarnya, tapi Nisa tak mengangkatnya. Dan di temukan Nisa telah kaku dan membiru..

Allah… bagaimana mungkin secepat ini, sempatkah ia menyebut namaMu? Betapa sakitnya sakaratul maut yang ia rasakan, dan dia menghadapinya sendiri, Rabb adakah namaMu dia ucapkan? Baru saja kurasa mengenalnya, baru saja dia mengatakan ingin mengenal islam lebih jauh, beru kemarin ku rasa dia mengatakan ingin menggunakan jilbab lebar sepertiku. Masih dapat ku ingat dengan jelas ketika aku bermain ke rumahnya, dia minta aku meminjamkan jilbab hitam lebar yang aku gunakan saat itu sebentar saja.

Dia memakainya berdiri di depan cermin dengan senyuman yang sangat manis, Nisa begitu cantik dengan jilbab lebar yang aku pinjamkan padanya. Lalu dia memperagakan wajah malu-malu katanya jika ada ikhwan yang mengkhitbahnya, dia akan mengangguk malu seperti ini. Aku tertawa terpingkal-pingkal saat itu, namun sekarang ketika mengingatnya malah yang kurasakan perih yang amat sangat, di sini, di hatiku..

Teman membisikkan kalau ambulans yang mengantar jenazah menuju ke kampung halamanya akan segera berangkat, Nisa akan dikebumikan di kampungnya, kami pun berkumpul di sekitar ambulans mengantar kepergian Nisa. Melihatnya untuk terakhir kalinya. Serine segera menggelgar, memecah keheningan malam saat itu. Ambulans yang berisi jasad Nisa telah pergi, Nisa tak ada lagi, namun di sini di hati ini dia tetap ada. Semangat hidupnya menjadi kekuatanku, Nisa sahabatku yang cantik, selamat jalan. Sampaikan salamku pada Rabb kita, Aku yakin niatmu yang tulus telah terukir dengan indah di buku amalanmu. Tersenyumlah kawan, kau begitu cantik dengan senyummu.

Tunggu aku, akupun pasti akan menyusulmu, di sana di JannahNya.. pergilah..

Kulepas kau dengan ikhlas.. Dengan Senyum..

jalan yg panjang nanar kau tatap
tak lagi peduli semua yg terjadi
smakin dalam larut angan mu melayang
mimpimu hadirkan semua penantian
dengan apa aja kau bernyanyi
akhirnya kau pun pergi… tak kembali

tiap haru kuhanya sanggup mengingat
jelas bayangmu yg masih melekat
dalam kecewa ku hanya mampu katakan
tetaplah tersenyum karena itu jalan
yang kau telah kau pilih……
terbanglah……terbanglah…..bersama pelangi

banyak sudah kisah yg tertinggal
kau buat jadi satu kenangan
seorang sahabat pergi tanpa tangis arungi mimpi
slamat jalan kawan cepatlah berlalu
mimpi mu kini tlah kau dapati
tak ada lagi seorang pun yang menggangu kau bernyanyi

slamat jalan kawan cepatlah berlalu
mimpi mu kini tlah kau dapati
tak ada lagi seorang pun yg mengganggu kau bernyayi..

Ada yang Salah dengan Jilbabku



Angin berhembus pelan menggerakkan daun-daun di pucuk-pucuk pohon. Suasana nan sejuk. Nampak sebuah bangunan megah berlantai dua, SMA Kusuma Bakti.

Siang nan lengang, anak-anak sekolah terlihat keluar kelas untuk istirahat siang. Akupun melangkahkan kakiku menuju kantin sekolah. Tapi aku terkejut melihat seorang anak gadis di tengah lapangan basket.

“Please…! look at me…! hi boys… please…! look at me… i’m beautiful…” teriak  gadis itu mengusik suasana damai di siang hari. Tapi tak seorangpun mau memperhatikannya.

“Ya Allah…!” aku memegang tangan gadis itu dan membawanya pergi.

“Nis… jangan ditarik-tarik begini…” teriaknya.

“Zahro, kamu tu dah gila ya? Kenapa kamu teriak-teriak ngobral diri,  mang kamu barang dagangan?” tanyaku ketus.

“Nis… aku pingin punya pacar…” jawabnya polos.

“Iya… aku tahu, tapi bukan begini caranya”

“Lha, trus gimana?”

“Ya… sabar, aku pikir dulu”

“Tapi cepet…!!! Kalo mikirnya lama, sama juga boong”

“Iya… Bawel banget sih… abis pulang ke sekolah aku tungguin kamu ditaman”. Dia hanya tersenyum terus berlalu.

Aku geleng-geleng kepala, temanku yang satu ini benar-benar tomboy, nggak punya malu. Namanya indah, Alfu Zahro’ atau seribu bunga. Kulitnya putih, rambutnya hitam tergerai. Penampilannya sangat modis, wajahnya mengingatkanku pada Lindsay Lohan, seorang aktris cantik hollywood. Dia bukan anak miskin, keluarganya bercukupan. Tapi kenapa…? Tak seorangpun cowok disekolah ini mau jadi pacarnya.  Jangankan si Ferdy, yang ganteng dan jago basket… si Udin yang wajahnya dibawah standar itu tak mau pacaran dengan Zahro’.

“Ah… Tak tahu kenapa…?” Banyak tanya yang bergelayut didalam hatiku tentang Zahro’.

***

   Burung-burung berkicau diatas pohon, melagukan harmoni yang indah. Matahari bersinar tak begitu terik, sehingga aku benar-benar nyaman duduk ditaman ini. Apalagi angin bertiup sejuk. Tapi hatiku sebel… sudah lebih seperempat jam aku menunggu Zahro’ tapi kenapa belum kelihatan juga batang hidungnya. Kemana tu anak? Anak itu kalo janjian mang suka ngaret…

“Ih…” kalo datang bakal tak berondong makian.

“Sebel bangeeet…” umpatku.

Tiba-tiba ku dengar suara mendekat.” Itu pasti dia. Awas… ya…!” aku menoleh… mang benar dia… kulihat wajahnya biasa, tanpa merasa bersalah.

“Halo Nisa… maap ya…! terlambat, tadi jalannya macet” terdengar kata-kata konvensionalnya. Gak mutu…!

“ughhh… jalannya macet ya? Kenapa nggak bilang kalo kamu tu suka ngaret kalo janjian…” aku mau marah, tapi coba kutahan. “Iya… maap… cepetan! Katanya mau kasih cara buat dapat cowok”. “Aduh… anak ini… benar-benar nggak punya perasaan, datang-datang langsung nodong” batinku.   “Iya, makanya aku ngajak kamu kesini tu ya untuk bantu kamu”.

“Cepat! Katakan caranya… nggak usah pakai basa-basi. Katakan! Bagaimana caranya Nis?” buru dia tidak sabar.

“Tenang donk…!”. Aku mengambil bungkusan yang kubawa tadi dari rumah, kubuka dan kuberikan pada Zahro’.

“Inikan… jilbab…? mang cari cowok pakai jilbab?” tanyanya nggak percaya.

“Wajahmu tu genit banget, kalo pakai jilbab kan terlihat feminim. Kamu nggak tau sih… Orientasi cowok sekarang tu cewek feminim”.

“Coba kamu pakai dulu! Biar aku lihat wajahmu”. Dengan ragu-ragu akhirnya dia memakainya  juga. “Gimana, cantik nggak?”. Aku takjub. “Subhanallah… Kamu cantik banget Zahro’, wajahmu mirip Zaskia Adya Mecca” gumamku. Zahro’ hanya tersenyum.

“Tapi sekian lama kamu makai jilbab, kamu juga nggak punya pacar Nisa…”. Aku terdiam sesaat . aku tahu dia akan bertanya seperti itu. Aduh, pertanyaan yang sulit kujawab. Ku kumpulkan keberanianku, kuatur kata-kataku, semoga kamu nggak marah Zahro’. Aku nggak berniat menyakiti hatimu. Ya Allah… aku berniat dakwah.

“Ehmm… ya, karena dalam islam pacaran itu haram” ucapku tegas. Mendengar kata-kataku, Zahro’ menunduk, tiba-tiba dari sudut matanya menngumpal butiran-butiran bening. Air matanya mengkristal, meleleh, membasahi pipinya yang putih.

“Afwan Zahro’, bukan aku melarang kamu pacaran, tapi mang karena Allah tu sayang ma kita…” jelasku.

“Terima kasih Nisa… Kenapa sih kamu selalu care sama aku?”.

“Quu angfusakum wa ahlikum naara… Kau adalah ahli-ku Zahro’, aku sayang sama kamu” aku tak bisa menahan tangisku. Zahro’ menghambur, lalu memelukku. Ia terisak dalam tangisannya.

“Sungguh… Dari dulu aku itu bingung dengan jati diriku. Aku itu bingung mencari identitasku… Hari ini kamu telah menyadarkan aku. Dan karena kamu telah meyakinkan aku, aku akan mengikutimu Nisa” ucapnya yakin tanpa keraguan sedikitpun.

Aku bahagia, seribu bunga telah kucium wanginya. Bibirku tak berhenti mengucap syukur… Alhamdulillah… Ya Allah kau tunjukkan Hidayah-Mu di hatinya…” kami berpelukan dalam tangis kebahagiaan.

***

             Bel tanda istirahat berbunyi. Aku berjalan keluar kelas. Lalu ku rebahkan tubuhku di kursi tua—depan taman sekolah. Aku jadi leluasa memandang teman-temanku. Ada yang sedang mojok buat berduaan, ada yang sedang ngobrol. Ada juga para cowok yang sedang main basket.

Aku teringat Zahro’ sudah tiga minggu ini dia pakai jilbab. Kalau sore juga sering bareng aku ke mesjid buat dengar pengajian. Wah… Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Aku jadi teringat juga pada jilbab yang aku berikan dulu.” Ternyata jilbab ini memang pakaian yang dibuat oleh Allah untuk para akhwat” gumam ku pelan.

Bibirku mulai bergerak melantunkan ayat suci al-quran. Surat al-ahzab ayat 59. Kubaca berkali-kali sampai  aku benar-benar hafal diluar kepala beserta maknanya. Ayat itu isinya: perintah Allah kepada para akhwat untuk berjilbab.” Tapi akhwat sekarang yang munafik juga banyak” decak hatiku. Orang berjilbab itu orientasinya macam-macam, tidak semua ikhlas menjalankan perintah Rabb Allah Tuhan yang Esa. Aku teringat teman-teman akhwat di kompleks tempat tinggalku. Ada Asya, dia makai jilbab cuma buat kelihatan cantik, biar jadi perhatian sama ikhwan. Aku sudah pernah lihat dia ciuman didepan umum dengan pacarnya, meski dia pakai jilbab. “Ya Allah… Trus buat apa jilbabnya, kalau tangannya saja ia relakan dipegang oleh ikhwan non mahram” bisikku. Atau Karin yang makai jilbab cuma ikut-ikutan temannya. Kulihat kepalanya memang memakai jilbab, tapi… Masya Allah… celana jeans dan bajunya ketat, menonjolkan bentuk tubuhnya. Aduh… harusnya jilbab itu longgar. Aku juga kasihan liat si Siti tetangga depan rumahku. Karena ayahnya seorang Kiai, ia dipaksa memakai jilbab oleh ayahnya. Padahal dia tidak mau. Pernah aku tanya dia kenapa dia tidak mau memakai jilbab? Dia menjawab ketus; “Pakai jilbab itu gerah banget… lagian aku nggak mau disebut cewek sok alim, sok suci”. Hatiku miris mendengar kata-katanya. Apa ini yang disebut cewek modern? Tanyaku pada hatiku sendiri. Ada lagi yang lebih parah, namanya Vina, dia sekolah di Madrasah Aliyah. Dia memakai jilbab cuma formalitas, karena peraturan sekolahnya, bagi para akhwat wajib memakai jilbab. Dan kalau kesekolah, dia memang memakai  jilbab. Tapi begitu pulang, sampai rumah…? kalau dia main keluar rumah…? aku lihat dia memakai celana hotpants sama tanktop. “Sungguh ironis…!”. Aku menghela nafas dalam-dalam. “Ya Allah… Naudzubillahimin dzalik” batinku berteriak.

Aku juga pernah dengar statement dari seseorang, kenapa jilbab itu banyak dipakai akhwat di timur-tengah… Karena daerah disana, kata dia… adalah padang pasir yang berdebu. Untuk menghindari debu dibuatlah jilbab. Aku tertawa mendengar statementnya, lucu, bodoh dan nggak beralasan. Kalo memang berdebu, harusnya nggak cuma akhwat yang pakai jilbab, tentu ikhwan juga harus memakai. Tapi nyatanya…? Dia benar-benar nggak tahu perintah Allah.

“Hayow… ngelamun, mikir siapa?” Aku terkejut ketika pundakku ditepuk Zahro’ dari belakang. “Ah, kamu ngagetin aku aja…” ucapku tergagap. Kulihat Zahro’ dengan jilbabnya. Manis… Lalu dia duduk disampingku. “Wah, jam kosong Nis, tadi kudengar buguru ada acara keluar kota”. Aku tersenyum. “Wah, nggak ada kegiatan dong, ntar buat kegiatan ah…”

“Eh Nis, tau nggak…? si Kevin baru aja nembak aku tadi…”

“Wuiihh…! Kevin yang tajir itu, yang kalo berangkat naik mobil itu, yang anak pengusaha itu…?” tanyaku.

“Iya… Mang dia, sekarang Kevin, kemarin Ferdy, kemarin lagi…”

“Mang ada berapa orang sih Zahro’ yang nembak kamu? Tanyaku penasaran.

“Aku itung dulu… satu… dua… tiga…”. aku tersenyum lihat Zahro’ begitu serius menghitung dengan jari tangannya. “Ada enam Nis…” kata dia terlonjak.

“Wah… kok bisa ya…?” Kulihat wajah Zahro’, dia terdiam beberapa saat. “Mang ada yang salah dengan jilbabku ya Nis?” tanyanya.

“Nggak…! Jilbabmu dan pakaianmu syar’i kok” jawabku meyakinkan.

“Trus kenapa ya…? Banyak cowok yang pengen aku jadi pacarnya. Padahal dulu nggak?”

“Itu namanya ujian dari Allah, trus sekarang gimana?” pancingku agar dia mau jujur dengan hatinya.

“Ya… seperti katamu, KEEP ISTIQOMAH. Sampai ada yang datang mengkhitbah kita” ucap Zahro’ serius tanpa keraguan. Hatiku lega akhirnya. “Alhamdulillah… Beneran nih, enam—enamnya ditolak?”

“Ya… Iyalah, kan yang masuk surga aku… Katamu kalo yang Islam Cuma KTP-ku doang, ntar yang masuk surga KTP-ku, he..he..he..”. Aku ikut tertawa. Masih ingat juga dia dengan candaanku kemarin.

Aku lalu bangkit dan menarik tangannya. “Kalo begitu aku mau teriak seperti kamu dulu…” ku genggam tangan Zahro’. Kulihat dia kebingungan. “Lho… nggak jadi istiqomah?” tanyanya sambil setengah berlari. Aku dan Zahro’ sampai ke tengah lapangan basket.

“ Please…! look at me…!” teriakku.

“Hai… Nisa… jangan! Zahro’ hendak mencegahku.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Kembali kulirik  Zahro’, ia tersenyum. Lalu ikutan teriak-teriak juga.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Aku senang… akhirnya dia dapat memahami maksudku. Aku berharap akhwat disekolah ini mau memakai jilbab dengan syar’i untuk menjaga kesuciannya dan menjaga tingkah lakunya. Ikhlas, tulus dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Tidak riya’ dan yang lainnya. Dan sampai kapanpun dakwahku tak akan berhenti…

I’m khoirunnisa

by Lilia Nurul Huda

Cerpen: Perempuan Sempurna, Siapakah Engkau?

rose
Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim.
Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.Ini terjemah ayat tersebut:

66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.
SEBUAH KONTRADIKSI

Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…
Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…
PEREMPUAN SEMPURNA

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).
Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah IF dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-reba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.

Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?
Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…
JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.
Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja…”
Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah!
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Dikutip dari cerpen Mbak Afifah Afra :-)
Thank u sister.. u really a great writer…

Istiqamah Hati

suatu ketika terjadi percakapan antara tiga orang gadis di taman sekolah. Mereka dengan asyiknya mengobrol

“eh lin, elo tau nggak..? kemaren gue abis ditembak sama yoga…” ucap hani girang.

“hah? beneran? yoga yang cakep itu? yang anak pengusaha mall itu? buju busyeet.. beruntung amat elo ni” tukas linda

“iya, yoga yg itu.. hahahaaha.. iya dong.. gue gituh..” ucap hani dengan PD-nya.

“eh gimana kabar cowok lo, si andri itu?” tanya hani .

“ooh.. dia mah baik2 aja, sekarang lagi sibuk sam hobbynya, nge-trail” jawab linda.

“aseeek..” ucap hani. mata mereka saling beradu, condong ke barat, memandang temannya yang  satu lagi  dengan senyuman.

“kalo elo gimana nisa? cowok lo” tanya hani penasaran..

“ups… aku.. aku nggak punya cowok ni” ucap nisa gemetaran.

“yang bener elo nggak punya cowok nis?” tanya hani heran

“iya bener.. suer deh..” jawab nisa sambil melipat jarinya membentuk huruf V

“elo kan cantik nis, mana mungkin nggak ada cowok yang mau jadi pacar lo” tukas linda

“hemmm.. iya sih…” ucap nisa.

“trus apa yg halangin elo buat gak punya pacar? gak dibolehin ortu lo ya?” tanya hani

“enggak, bukan karna itu hani, linda”

“trus karna apa dong?” tanya mereka

“karna aku menjaga ke-istiqomahanku…”

(hani dan linda : saling berpandangan dan melongo)

Rumah Kehidupan dan Rumah Kematian

                Hari ini aku menjauhkan diri dari bisingnya lalu lalang orang-orang. Diriku melangkah ke tempat dimana tak ada seorangpun kecuali diriku, Karen disanalah tempat orang tinggal dengan kebahagiaannya dan kedamaiannya.

                Diriku duduk ditempat itu. Ku lihat dan ku bayangkan desaku disana. Betapa kacaunya sekarang. Rumah-rumah berdiri megah, tinggi, menjulang langit. Jalan-jalan yang tiada henti dilewati sumber-sumber kesombongan manusia.

“zaman modern…” teriakku.

                Diriku duduk sambil membayangkan kerja manusia dikejauhan sana. Dan diriku menemukan mereka dalam keribetan dan ketegangan jiwa.

“demi uang…” teriak mereka.

“demi hidup…” teriak yang lain.

                Didalam batinku aku berusaha melupakan apa yang menimpa mereka, dan diriku memalingkan mataku kearah kampung kedamaian. Disana yang ku dapati cuma onggokan tanah, batu nisan yang dikelilingi pohon-pohon dan bunga kamboja. Lantas diriku merenung.

 

Desaku telah menjadi kota.

Indah dalam pandangan mata.

Semua ada dan tersedia.

Bahagia bagi sebagian mereka.

 

Desaku telah jadi kota kehidupan

Disana terjadi kesibukan

Kelelahan yang tiada penghabisan

Sesuatu yang takkan ada penyelesaian

 

Sedang disini kota kematian

Yang kutemukan cuma ketenangan

Diam dalam kebisuan dan keheningan

Terus… apa yang mereka banggakan?

 

Dikota kehidupan yang kudapati :

Harapan & keputus asaan

Rasa sayang & benci

Kemiskinan & kekayaan

Kepercayaan & kemunafikan

Sedang dikota kematian ku dapati…? Entah… aku tiada tahu… yang tahu cuma Tuhan-ku… Karena kematian belum menjemputku, tapi suatu saat, pasti aku akan singgah di kota kematian. Disanalah kelak kota abadi yang kutemukan.

Lamunanku berhenti…

                Tiba-tiba mataku melihat kedatangan iring-iringan orang, di belakang sebuah peti mati yang dibawa sebuah mobil. Peti mati yang mahal, terbuat dari kayu dan besi yang dibuat sedemikian rupa… Peti mati penuh ukiran karya pengukir yang hebat. Peti mati orang kaya dan berkuasa. Pengiringnya sangat banyak, dari berbagai macam lapisan masyarakat…

                Yang mati orang terkenal, terpandang dan terhormat. Suasana haru, senyap penuh derai air mata. Sesegukan tangis.. Ketika peti mati di turunkan pemandangan orang berpakaian hitam, berbelasungkawa, penuh duka cita. Dipimpin oleh seorang yang alim. Orang-orang berdo’a dengan nada-nada yang indah. Benar-benar upacara kematian yang megah. Sesaat kemudian orang-orang menyingkir, Nampak sebuah batu nisan pualam karya pemahat dan tukang batu yang tersohor keindahannya. Disekelilingnya ditaruh bunga yang disusun terampil oleh tangan-tangan ahli. Setelah upacara penguburan selesai, kemudian iring-iringan itu pergi meninggalkan pemakaman. Suara hening lagi.

                Aku kembali merenungkan apa yang baru saja aku lihat.

“manusia dengan rumah yang indah. Didunia ia punya rumah mewah… sedang dialam kematian ia punya rumah yang megah” gumamku pelan.

 

Ketika aku akan beranjak meninggalkan tempat itu, mataku kembali dikejutkan oleh kedatangan empat pria yang memikul keranda. Dibelakangnya nampak seorang perempuan dengan pakaian lusuh. Mengikuti seraya menggendong anaknya yang menetek.

                Nampak seorang anak perempuan yang tak lain adalah juga anak ibu itu, tak henti-hentinya ia menangis. Sambil memegangi tangan ibunya. Cuma itu, hanya itulah iring-iringan penguburan. Seorang pria miskin, seorang pria hina ditempat itu.

                Seorang istri mencurahkan air mata kepedihannya dan bayi yang menangis, karena tangis ibundanya. Serta anak perempuan yang menangis kehilangan ayahnya dalam kepedihan dan kepiluan. Keempat orang itu lalu memasukkan mayat itu ke liang lahat. Mayat malang itu ditimbun tanah tanpa penghalang apapun. Penguburan itu akhirnya selesai, dan berakhir dengan sebuah gundukan tanah. Tanpa batu nisan, tanpa bunga. Kemudian mereka pulang dalam kebisuan. Sedang anak perempuan bermata sembab itu berkali-kali menoleh kebelakang. Seakan-akan ia tak rela ayahnya pergi. Matanya masih basah, menatap tempat peristirahatan terakhir ayahnya.

“kemana aku harus pulang…?” pikirku tentangnya.

                Setelah itu mereka hilang dibalik pohon-pohon. Aku tiada dapat menahan air mataku.

“mereka pasti tidak punya rumah…” lalu aku menatap kota kehidupan.

“itu sebab sikaya dan berkuasa…” dan kearah kematian, akupun berkata,

“itupun karna sikaya dan berkuasa…”

“lantas dimana ya… illahi.. ya Allah… rumah si miskin tanpa daya itu…?”

                Setelah berkata itu, aku berjalan pelan meninggalkan kampung kedamaian itu. Kutatap langit biru yang cerah, kutanya semilir angin. Kurasakan harumnya semerbak bunga, kulihat pohon-pohon… Semua diam…

`Dan sebuah suara di dalam diriku berkata

“nun jauh disana…”

 

Salatiga 07-11-2011

Thanks to = kahlil Gibran, jallaludin ar rumi untuk advice dan kosakata indahnya

 

“cerita ini cuma nasehat, untukku dan siapapun. aku tahu dunia ini cuma kesenangan yang menipu. hidup bahagia cuma diakhirat… let’s make  happiness in the world and heaven.. with me together forever…”

Semoga bermanfaat…

All about Valentine’s Day

Sore ini begitu cerah hatiku..

Cahaya matahari redup, berganti cahaya semburat merah, senja yang indah… Aku senang sekali memandang sinar itu..

Kubuka jendela kamarku. Angin bertiup pelan menerpa wajahku.

“Subhanallah… sungguh indah ciptaan Allah..” gumamku

“Kakak…” seseorang mengagetkanku.

Kulihat sosok adikku yang paling manis, dengan buru-buru menghampiri lemari baju.

“Lho, ada apa dik…?”

“Kak Nisa… pinjam jilbabnya yang pink ya…?”

“Hayoo.. buat apa? Boleh, ambil saja”

“Ini tanggal 14 februari kak.. aku mau valentinan ma ryan..”

Aku Cuma tersenyum, sambil berkata di dalam hati. Ini semua kesalahanku, aku biarkan adikku terjerumus mendekati zina, pacaran.. aku benar-benar nyesel. Semua sudah terlanjur, sekarang akau tidak berani melarangnya secara terang-terangan.. akan kudampingi dia.. akan ku dakwahi dan ku nasehati sedikit demi sedikit karena kalau ku larang secara frontal, aku takut dia dengan pacarnya akan backstreet, main belakang. Dan itu lebih berbahaya, karena tidak terkontrol.

“tapi kenapa nggak sekalian aja wajah kamu di cat pink..?” candaku.. karena aku lihatin adikku yang super cantik ini semuanya berwarna pink. Baju pink, rok pink, sepatu pink, accesorisnya pink, jilbabnya juga pink..

“kenapa harus pink sih dik?” tanyaku

“kan valentine identik dengan pink kakak..”

Tapi hatiku membantah. Hanya kesepakatan.

“kurasa Cuma ikut-ikutan saja”

Mungkin karena gencarnya propaganda iklan-iklan di TV atau di radio itu.. lifestyle remaja sekarang adalah layar kaca, syetan itu.

“Ya udah.. hati-hati dijalan, sholat maghrib dulu..”

“Iya kakak..”

Bergegas dia meninggalkan kamarku. Aku Cuma geleng-geleng kepala.

“Apanya yang mengesankan dan membuat terkesan pada hari ini tanggal 14 februari?”

Kurasa semua hari tak pernah beda-bedain, entahlah.. aku sangat sayang adikku, ku doakan semoga dia di jauhkan dari segala dosa.. diberi hidayah oleh Allah. Suatu saat dibuka hatinya. Moga aja.. Aku minta pada-Mu ya Allah. Aamiin..

Aku nggak tahu asal muasal kenapa remaja-remaja kita bisa ikut-ikutan valentine-valentine itu. Sebagai muslim kita kan dilarang bertasyabuh dengan agama lain.

Kucari fakta sejarah valentine, setelah cari kesana-kemari akhirnya aku menemukannya.

Hari valentine terinspirasi dari kisah seorang pendeta nasrani bernama St. Valentino. Ceritanya ia melanggar perintah kaisar Claudius. Untuk tidak menikahkan pasangan yang saling mencintai, tapi oleh St. Valentino ia malah menikahkan pasangan yang saling mencintai, karena alas an kemanusiaan. Pendeta itu dihukum penjara hingga mati tragis.

Aku berpikir..

“Kasih sayang yang mana…?” warna pink, coklat, bunga mawar untuk apa? Aneh menurutku, pacaran???”

Yang ada, bagi remaja sekarang adalah tukeran hadiah. Harusnya yang patut diapresiasi adalah jiwa humanismenya. Sebenarnya ini Cuma masalah culture orang nasrani. Ironisnya kitaorang-orang Islam ikut-ikutan. Karena culture Islam sekarang kering.. nggak ada. Harusnya kita juga buat hari bersejarah yang bisa kita rayakan.. Jadi bukan kita yang bertasyabuh dengan mereka, tapi mereka yang bertasyabuh dengan kita.. Oke kan..!!

Sebenarnya kita bisa bangun peradaban. Jangan membid’ah sesuatu yang baik.

Aku sering bertanya. Islam otentik itu yang seperti apa…???

Kita kehilangan semangat  mencintai Islam. Semua saling mencari pembenaran dalam agama—pendapatnya sendiri. Remaja kita diracuni culture-culture agama mereka. Berpikirlah..! Mereka siap untuk di murtadkan. Mulai sekarang kita harus kembali membangkitkan culture-culture Islam. Apapun bentuknya—jangan diam!

Islam adalah agama Rahmatal lil ‘alamin.. Damai bagi semua tidak ada anarkis, kekerasan, pembunuhan untuk melawan kafir-kafir itu. Kita punya culture keislaman yang menjadi benteng. Aku ingat bagaimana Shalahudin Alayubbin membangkitkan semangat pasukan Islami waktu perang salib untuk merebut Masjidil Aqsa.. di Palestina. Beliau membacakan dan mengadakan Maulid Nabi Muhammad. Bagaimana Rasulullah berjuang, berperang, berjihad. Semua diceritakan.. Hebat.. Pasukan kita bisa merebut Masjidil Aqsa dengan culture Islam.

Adzan Isya berkumandang.. aku bergegas sholat. Selesai sholat ku angkat tanganku. Berdoa.. kemudian ku dengar pintu kamar berderit..

Aku menoleh.. Ku lihat siapa yang datang. Seseorang masuk dengan wajah muram—semuram awan hitam yang bentar lagi pasti hujan. Hujan airmata.

“Lho.. dik Zahra.. kok cepet banget pulangnya? Nggak jadi valentinan sama Ryan?”

Kulihat warna pink-nya sekarang udah jadi sedikit merah karena wajahnya yang menahan marah. Tiba-tiba Zahra sesegukan dalam tangisnya. Kemudian menghambur memelukku.

“Lho.. ada apa ini…?” tanyaku sambil mengelap butiran air mata dipipinya.

“Kak Nisa.. aku sakit hati banget..” ucapnya sesegukan. Ku peluk adikku yang paling aku sayangi ini. Ia butuh didengarkan.

“Ceritain, ada apa..?”

“Aku diputusin sama Ryan kak, padahal aku cinta banget sama dia. Hiks.. hiks.. hiks.. dah gitu tadi dia pamerin cewek barunya. Orang Kristen bernama Marsha buat valentinan. Cewek itu dikasih coklat sama bunga mawar. Aku sakit hati kak..”

“Yah.. kalau Cuma coklat besok kakak beliin. Rasa coklat tanggal 14 februari, 15, 17,21 sama aja kok.. Kalau bunga mawar, didepan rumah juga ada.. he..he.. senyum dunk” aku tersenyum lebar. Zahra tersenyum juga meski terpaksa.

“Kak Nisa nyebelin.. hmmm.. si Ryan itu jahat…”

“Nggak adik.. Ryan nggak jahat, Ryan bener”

“Bener gimana sih kak.. kok kakak membela dia?”

“Ryan bener. Sebab Marsha kan orang Kristen, jadi memang bener apa yang dilakukan Ryan itu. Siapa tahu ntar gantian kamu yang diajar Ryan ke acara Maulid Nabi. Itu kan acara kita.”

“ Sekarang kakak tanya, valentine-valentine gitu itu maksudnya apa?”

Zahra terdiam, ia sangat malu karena nggak bisa jawab.

“Aku nggak tahu kak.. aku Cuma ikut temen-temen…”

“Tu kan, nggak tahu.. adik harus tanggung jawab sama diri adik sendiri.. harus bisa bedain. Mana yang baik dan mana yang buruk”

“Iya, kak.. tapi aku sakit hati kak diputusin..”

“Kakak kasih advice mau dengerin nggak adik..?” Zahra mengangguk.

“Adik mencintai seseorang itu belum pada waktunya.. cinta kepada lawan jenis itu Cuma kepada suami adik aja ntar.. Kalau adik mencintai Ryan yang hotabene bukan apa-apanya adik, sedang ternyata Ryan itu malah mencintai Marsha. Kan sakit banget. Makanya cinta itu butuh ikatan. Pernikahan namanya.. Sekarang nggak usah pacaran aja. Dapatnya Cuma sakit hati. Ok..”

“Iya kak, aku akan dengerin kata-kata kakak..”

“Alhamdulillah Ya.. Allah, aku bersyukur padamu..”

———–lilianurulhuda

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.