Archive for the ‘imajinasi’ Category

Making a MOVIE

first time for make a movie 🙂

Advertisements

Bunga Azalea dari Sabun

Tanggal 1 April kemarin adalah tanggal bagi diriku membuat bunga. Namun kali ini diriku membuat bunga dari sabun mandi batangan, heheheee… proses membuatnya gampang, cuma butuh bahan2 dibawah ini.. :

  • 1 buah sabun batangan (bukan sabun balok buat nyuci baju lho ya.. ^o^ )
  • 8 sdm tepung maizena
  • 8 sdm air panas
  • 1 alat parutan keju
  • 1 gunting
  • 1 mangkok untuk menguleni
  • 5 batang lidi (ambil aja lidi dari sapu halaman yg udah gak dipake. hehehe)
  • 1 pot bunga
  • 1 buah lem kertas (gulungan seperti selotip)
  • 8 lembar daun buatan

caranya:

  1. sabun batangan tadi di parut menggunakan parutan kelapa atau keju, sampai sabun habis
  2. masukkan ke dlm mangkok : sabun yg sudah diparut tadi, lalu ditaburi tepung maizena, aduk sampai rata
  3. tambahkan air panas, campur semuanya jadi satu, uleni sampai kalis
  4. biarkan adonan sabun menyatu, tunggu 5 menit
  5. setelah menyatu, ambil adonan sedikit saja
  6. bulatkan adonan tersebut, lalu pipihkan
  7. siapkan lidi sebagai tangkainya
  8. lekatkan adonan yg sudah dipipihkan tadi ke lidi, buat formasi melingkari lidi
  9. buat adonan lagi seperti tadi, dan lingkarkan ke adonan yg sudah menempel tadi
  10. lakukan cara seperti tadi berulang2 hingga adonan ke 6
  11. setelah menjadi sebuah bunga, taruh di tempat lain agar cepat mengering
  12. ambil tangkai lidi lagi dan buat bunga seperti tadi
  13. begitu seterusnya hingga adonan sabun habis 🙂

setelah semua bunga mengering, saatnya menghias bunga. caranya :

  1. siapkan lem kertas, lalu ambil setangkai bunga
  2. lekatkan lem tepat di tangkai bunga paling atas
  3. buat formasi lem melingkari tangkai
  4. ditengah tangkai, sisipkan sehelai daun buatan
  5. lanjutkan melingkari tangkai dengan lem kertas, lalu sisipkan lagi daun kertas yg kedua
  6. lanjutkan melekatkan lem kertas sampai diujung tangkai bunga
  7. lakukan cara spt diatas ke bunga yg lainnya
  8. setelah selesai, masukkan ke dalam pot bunga 🙂

caranya gampang bukan? ayo kamu cobain membuat bunga seperti ini dirumah, selain memperindah pandangan mata, juga mengharumkan ruangan lhoo.. sekian tutorial membuat bunga sabun dari diriku. moga bermanfaat…  v(^__^)v

bunga dari sabun

bunga dari sabun

Berani Jomblo kah dirimu…? ^_^

beranijomblo

STOP

someday

HIDUP

land

Di kota cantik yang biasa
Aku tak bisa tertawa dengan cara yang sama dan berjalan dengan kepala tertunduk
Orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa
“Sudahkah mimpimu terwujud?”
Aku masih berjuang

Aku ingin mencoba hidup lebih baik di masa sekarang
dibandingkan dengan kembali ke masa kecilku
Sifatku yang penakut

Aku pergi ke tempat yang cerah dan meregangkan lenganku
Bisakah aku melintasi langit itu? Itulah yang ku pikirkan
Sayap yang kugunakan untuk terbang masih belum terlihat
Karena tidak mudah, bahwa aku bisa melanjutkan hidup

Hanya dengan memungut kucing kecil yang kebasahan
Membuatku sedikit tersenyum dan air mata pun mengalir
“Aku ingin dicintai, aku hanya ingin dicintai”
Itulah yang ku katakan, Tapi tidak baik jika hanya meminta sesuatu

Ada saat dimana aku menyakiti ibuku sewaktu kecil
Aku ingin mengubah semuanya sekarang

Aku pergi ke tempat yang terang dan mencoba menggenggam erat tanganku
Aku akan menghancurkan tempat itu, saat itu
Aku bisa mengubah hidupku
Tapi aku benar-benar tak bisa mengutarakan segala sesuatu yang ada di hatiku
Karena tidak mudah dan aku bisa tetap melanjutkan hidup

Aku pergi ke tempat yang terang dan membuka sebuah peta, tapi
Aku tahu.. Kau tahu.. bahwa keragu-raguan tak bisa ditolong
Aku bisa mengubah hidupku

Seluruh hari yang telah berlalu membentuk diriku yang sekarang
Karena tidak mudah, bahwa aku bisa tetap melanjutkan hidup

 

Ada yang Salah dengan Jilbabku



Angin berhembus pelan menggerakkan daun-daun di pucuk-pucuk pohon. Suasana nan sejuk. Nampak sebuah bangunan megah berlantai dua, SMA Kusuma Bakti.

Siang nan lengang, anak-anak sekolah terlihat keluar kelas untuk istirahat siang. Akupun melangkahkan kakiku menuju kantin sekolah. Tapi aku terkejut melihat seorang anak gadis di tengah lapangan basket.

“Please…! look at me…! hi boys… please…! look at me… i’m beautiful…” teriak  gadis itu mengusik suasana damai di siang hari. Tapi tak seorangpun mau memperhatikannya.

“Ya Allah…!” aku memegang tangan gadis itu dan membawanya pergi.

“Nis… jangan ditarik-tarik begini…” teriaknya.

“Zahro, kamu tu dah gila ya? Kenapa kamu teriak-teriak ngobral diri,  mang kamu barang dagangan?” tanyaku ketus.

“Nis… aku pingin punya pacar…” jawabnya polos.

“Iya… aku tahu, tapi bukan begini caranya”

“Lha, trus gimana?”

“Ya… sabar, aku pikir dulu”

“Tapi cepet…!!! Kalo mikirnya lama, sama juga boong”

“Iya… Bawel banget sih… abis pulang ke sekolah aku tungguin kamu ditaman”. Dia hanya tersenyum terus berlalu.

Aku geleng-geleng kepala, temanku yang satu ini benar-benar tomboy, nggak punya malu. Namanya indah, Alfu Zahro’ atau seribu bunga. Kulitnya putih, rambutnya hitam tergerai. Penampilannya sangat modis, wajahnya mengingatkanku pada Lindsay Lohan, seorang aktris cantik hollywood. Dia bukan anak miskin, keluarganya bercukupan. Tapi kenapa…? Tak seorangpun cowok disekolah ini mau jadi pacarnya.  Jangankan si Ferdy, yang ganteng dan jago basket… si Udin yang wajahnya dibawah standar itu tak mau pacaran dengan Zahro’.

“Ah… Tak tahu kenapa…?” Banyak tanya yang bergelayut didalam hatiku tentang Zahro’.

***

   Burung-burung berkicau diatas pohon, melagukan harmoni yang indah. Matahari bersinar tak begitu terik, sehingga aku benar-benar nyaman duduk ditaman ini. Apalagi angin bertiup sejuk. Tapi hatiku sebel… sudah lebih seperempat jam aku menunggu Zahro’ tapi kenapa belum kelihatan juga batang hidungnya. Kemana tu anak? Anak itu kalo janjian mang suka ngaret…

“Ih…” kalo datang bakal tak berondong makian.

“Sebel bangeeet…” umpatku.

Tiba-tiba ku dengar suara mendekat.” Itu pasti dia. Awas… ya…!” aku menoleh… mang benar dia… kulihat wajahnya biasa, tanpa merasa bersalah.

“Halo Nisa… maap ya…! terlambat, tadi jalannya macet” terdengar kata-kata konvensionalnya. Gak mutu…!

“ughhh… jalannya macet ya? Kenapa nggak bilang kalo kamu tu suka ngaret kalo janjian…” aku mau marah, tapi coba kutahan. “Iya… maap… cepetan! Katanya mau kasih cara buat dapat cowok”. “Aduh… anak ini… benar-benar nggak punya perasaan, datang-datang langsung nodong” batinku.   “Iya, makanya aku ngajak kamu kesini tu ya untuk bantu kamu”.

“Cepat! Katakan caranya… nggak usah pakai basa-basi. Katakan! Bagaimana caranya Nis?” buru dia tidak sabar.

“Tenang donk…!”. Aku mengambil bungkusan yang kubawa tadi dari rumah, kubuka dan kuberikan pada Zahro’.

“Inikan… jilbab…? mang cari cowok pakai jilbab?” tanyanya nggak percaya.

“Wajahmu tu genit banget, kalo pakai jilbab kan terlihat feminim. Kamu nggak tau sih… Orientasi cowok sekarang tu cewek feminim”.

“Coba kamu pakai dulu! Biar aku lihat wajahmu”. Dengan ragu-ragu akhirnya dia memakainya  juga. “Gimana, cantik nggak?”. Aku takjub. “Subhanallah… Kamu cantik banget Zahro’, wajahmu mirip Zaskia Adya Mecca” gumamku. Zahro’ hanya tersenyum.

“Tapi sekian lama kamu makai jilbab, kamu juga nggak punya pacar Nisa…”. Aku terdiam sesaat . aku tahu dia akan bertanya seperti itu. Aduh, pertanyaan yang sulit kujawab. Ku kumpulkan keberanianku, kuatur kata-kataku, semoga kamu nggak marah Zahro’. Aku nggak berniat menyakiti hatimu. Ya Allah… aku berniat dakwah.

“Ehmm… ya, karena dalam islam pacaran itu haram” ucapku tegas. Mendengar kata-kataku, Zahro’ menunduk, tiba-tiba dari sudut matanya menngumpal butiran-butiran bening. Air matanya mengkristal, meleleh, membasahi pipinya yang putih.

“Afwan Zahro’, bukan aku melarang kamu pacaran, tapi mang karena Allah tu sayang ma kita…” jelasku.

“Terima kasih Nisa… Kenapa sih kamu selalu care sama aku?”.

“Quu angfusakum wa ahlikum naara… Kau adalah ahli-ku Zahro’, aku sayang sama kamu” aku tak bisa menahan tangisku. Zahro’ menghambur, lalu memelukku. Ia terisak dalam tangisannya.

“Sungguh… Dari dulu aku itu bingung dengan jati diriku. Aku itu bingung mencari identitasku… Hari ini kamu telah menyadarkan aku. Dan karena kamu telah meyakinkan aku, aku akan mengikutimu Nisa” ucapnya yakin tanpa keraguan sedikitpun.

Aku bahagia, seribu bunga telah kucium wanginya. Bibirku tak berhenti mengucap syukur… Alhamdulillah… Ya Allah kau tunjukkan Hidayah-Mu di hatinya…” kami berpelukan dalam tangis kebahagiaan.

***

             Bel tanda istirahat berbunyi. Aku berjalan keluar kelas. Lalu ku rebahkan tubuhku di kursi tua—depan taman sekolah. Aku jadi leluasa memandang teman-temanku. Ada yang sedang mojok buat berduaan, ada yang sedang ngobrol. Ada juga para cowok yang sedang main basket.

Aku teringat Zahro’ sudah tiga minggu ini dia pakai jilbab. Kalau sore juga sering bareng aku ke mesjid buat dengar pengajian. Wah… Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Aku jadi teringat juga pada jilbab yang aku berikan dulu.” Ternyata jilbab ini memang pakaian yang dibuat oleh Allah untuk para akhwat” gumam ku pelan.

Bibirku mulai bergerak melantunkan ayat suci al-quran. Surat al-ahzab ayat 59. Kubaca berkali-kali sampai  aku benar-benar hafal diluar kepala beserta maknanya. Ayat itu isinya: perintah Allah kepada para akhwat untuk berjilbab.” Tapi akhwat sekarang yang munafik juga banyak” decak hatiku. Orang berjilbab itu orientasinya macam-macam, tidak semua ikhlas menjalankan perintah Rabb Allah Tuhan yang Esa. Aku teringat teman-teman akhwat di kompleks tempat tinggalku. Ada Asya, dia makai jilbab cuma buat kelihatan cantik, biar jadi perhatian sama ikhwan. Aku sudah pernah lihat dia ciuman didepan umum dengan pacarnya, meski dia pakai jilbab. “Ya Allah… Trus buat apa jilbabnya, kalau tangannya saja ia relakan dipegang oleh ikhwan non mahram” bisikku. Atau Karin yang makai jilbab cuma ikut-ikutan temannya. Kulihat kepalanya memang memakai jilbab, tapi… Masya Allah… celana jeans dan bajunya ketat, menonjolkan bentuk tubuhnya. Aduh… harusnya jilbab itu longgar. Aku juga kasihan liat si Siti tetangga depan rumahku. Karena ayahnya seorang Kiai, ia dipaksa memakai jilbab oleh ayahnya. Padahal dia tidak mau. Pernah aku tanya dia kenapa dia tidak mau memakai jilbab? Dia menjawab ketus; “Pakai jilbab itu gerah banget… lagian aku nggak mau disebut cewek sok alim, sok suci”. Hatiku miris mendengar kata-katanya. Apa ini yang disebut cewek modern? Tanyaku pada hatiku sendiri. Ada lagi yang lebih parah, namanya Vina, dia sekolah di Madrasah Aliyah. Dia memakai jilbab cuma formalitas, karena peraturan sekolahnya, bagi para akhwat wajib memakai jilbab. Dan kalau kesekolah, dia memang memakai  jilbab. Tapi begitu pulang, sampai rumah…? kalau dia main keluar rumah…? aku lihat dia memakai celana hotpants sama tanktop. “Sungguh ironis…!”. Aku menghela nafas dalam-dalam. “Ya Allah… Naudzubillahimin dzalik” batinku berteriak.

Aku juga pernah dengar statement dari seseorang, kenapa jilbab itu banyak dipakai akhwat di timur-tengah… Karena daerah disana, kata dia… adalah padang pasir yang berdebu. Untuk menghindari debu dibuatlah jilbab. Aku tertawa mendengar statementnya, lucu, bodoh dan nggak beralasan. Kalo memang berdebu, harusnya nggak cuma akhwat yang pakai jilbab, tentu ikhwan juga harus memakai. Tapi nyatanya…? Dia benar-benar nggak tahu perintah Allah.

“Hayow… ngelamun, mikir siapa?” Aku terkejut ketika pundakku ditepuk Zahro’ dari belakang. “Ah, kamu ngagetin aku aja…” ucapku tergagap. Kulihat Zahro’ dengan jilbabnya. Manis… Lalu dia duduk disampingku. “Wah, jam kosong Nis, tadi kudengar buguru ada acara keluar kota”. Aku tersenyum. “Wah, nggak ada kegiatan dong, ntar buat kegiatan ah…”

“Eh Nis, tau nggak…? si Kevin baru aja nembak aku tadi…”

“Wuiihh…! Kevin yang tajir itu, yang kalo berangkat naik mobil itu, yang anak pengusaha itu…?” tanyaku.

“Iya… Mang dia, sekarang Kevin, kemarin Ferdy, kemarin lagi…”

“Mang ada berapa orang sih Zahro’ yang nembak kamu? Tanyaku penasaran.

“Aku itung dulu… satu… dua… tiga…”. aku tersenyum lihat Zahro’ begitu serius menghitung dengan jari tangannya. “Ada enam Nis…” kata dia terlonjak.

“Wah… kok bisa ya…?” Kulihat wajah Zahro’, dia terdiam beberapa saat. “Mang ada yang salah dengan jilbabku ya Nis?” tanyanya.

“Nggak…! Jilbabmu dan pakaianmu syar’i kok” jawabku meyakinkan.

“Trus kenapa ya…? Banyak cowok yang pengen aku jadi pacarnya. Padahal dulu nggak?”

“Itu namanya ujian dari Allah, trus sekarang gimana?” pancingku agar dia mau jujur dengan hatinya.

“Ya… seperti katamu, KEEP ISTIQOMAH. Sampai ada yang datang mengkhitbah kita” ucap Zahro’ serius tanpa keraguan. Hatiku lega akhirnya. “Alhamdulillah… Beneran nih, enam—enamnya ditolak?”

“Ya… Iyalah, kan yang masuk surga aku… Katamu kalo yang Islam Cuma KTP-ku doang, ntar yang masuk surga KTP-ku, he..he..he..”. Aku ikut tertawa. Masih ingat juga dia dengan candaanku kemarin.

Aku lalu bangkit dan menarik tangannya. “Kalo begitu aku mau teriak seperti kamu dulu…” ku genggam tangan Zahro’. Kulihat dia kebingungan. “Lho… nggak jadi istiqomah?” tanyanya sambil setengah berlari. Aku dan Zahro’ sampai ke tengah lapangan basket.

“ Please…! look at me…!” teriakku.

“Hai… Nisa… jangan! Zahro’ hendak mencegahku.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Kembali kulirik  Zahro’, ia tersenyum. Lalu ikutan teriak-teriak juga.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Aku senang… akhirnya dia dapat memahami maksudku. Aku berharap akhwat disekolah ini mau memakai jilbab dengan syar’i untuk menjaga kesuciannya dan menjaga tingkah lakunya. Ikhlas, tulus dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Tidak riya’ dan yang lainnya. Dan sampai kapanpun dakwahku tak akan berhenti…

I’m khoirunnisa

by Lilia Nurul Huda

PROVE THAT YOU CAN DO THE BEST PIN

PROVE THAT YOU CAN DO THE BEST