Archive for the ‘kisah’ Category

HIDUP

land

Di kota cantik yang biasa
Aku tak bisa tertawa dengan cara yang sama dan berjalan dengan kepala tertunduk
Orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa
“Sudahkah mimpimu terwujud?”
Aku masih berjuang

Aku ingin mencoba hidup lebih baik di masa sekarang
dibandingkan dengan kembali ke masa kecilku
Sifatku yang penakut

Aku pergi ke tempat yang cerah dan meregangkan lenganku
Bisakah aku melintasi langit itu? Itulah yang ku pikirkan
Sayap yang kugunakan untuk terbang masih belum terlihat
Karena tidak mudah, bahwa aku bisa melanjutkan hidup

Hanya dengan memungut kucing kecil yang kebasahan
Membuatku sedikit tersenyum dan air mata pun mengalir
“Aku ingin dicintai, aku hanya ingin dicintai”
Itulah yang ku katakan, Tapi tidak baik jika hanya meminta sesuatu

Ada saat dimana aku menyakiti ibuku sewaktu kecil
Aku ingin mengubah semuanya sekarang

Aku pergi ke tempat yang terang dan mencoba menggenggam erat tanganku
Aku akan menghancurkan tempat itu, saat itu
Aku bisa mengubah hidupku
Tapi aku benar-benar tak bisa mengutarakan segala sesuatu yang ada di hatiku
Karena tidak mudah dan aku bisa tetap melanjutkan hidup

Aku pergi ke tempat yang terang dan membuka sebuah peta, tapi
Aku tahu.. Kau tahu.. bahwa keragu-raguan tak bisa ditolong
Aku bisa mengubah hidupku

Seluruh hari yang telah berlalu membentuk diriku yang sekarang
Karena tidak mudah, bahwa aku bisa tetap melanjutkan hidup

 

Advertisements

Ada yang Salah dengan Jilbabku



Angin berhembus pelan menggerakkan daun-daun di pucuk-pucuk pohon. Suasana nan sejuk. Nampak sebuah bangunan megah berlantai dua, SMA Kusuma Bakti.

Siang nan lengang, anak-anak sekolah terlihat keluar kelas untuk istirahat siang. Akupun melangkahkan kakiku menuju kantin sekolah. Tapi aku terkejut melihat seorang anak gadis di tengah lapangan basket.

“Please…! look at me…! hi boys… please…! look at me… i’m beautiful…” teriak  gadis itu mengusik suasana damai di siang hari. Tapi tak seorangpun mau memperhatikannya.

“Ya Allah…!” aku memegang tangan gadis itu dan membawanya pergi.

“Nis… jangan ditarik-tarik begini…” teriaknya.

“Zahro, kamu tu dah gila ya? Kenapa kamu teriak-teriak ngobral diri,  mang kamu barang dagangan?” tanyaku ketus.

“Nis… aku pingin punya pacar…” jawabnya polos.

“Iya… aku tahu, tapi bukan begini caranya”

“Lha, trus gimana?”

“Ya… sabar, aku pikir dulu”

“Tapi cepet…!!! Kalo mikirnya lama, sama juga boong”

“Iya… Bawel banget sih… abis pulang ke sekolah aku tungguin kamu ditaman”. Dia hanya tersenyum terus berlalu.

Aku geleng-geleng kepala, temanku yang satu ini benar-benar tomboy, nggak punya malu. Namanya indah, Alfu Zahro’ atau seribu bunga. Kulitnya putih, rambutnya hitam tergerai. Penampilannya sangat modis, wajahnya mengingatkanku pada Lindsay Lohan, seorang aktris cantik hollywood. Dia bukan anak miskin, keluarganya bercukupan. Tapi kenapa…? Tak seorangpun cowok disekolah ini mau jadi pacarnya.  Jangankan si Ferdy, yang ganteng dan jago basket… si Udin yang wajahnya dibawah standar itu tak mau pacaran dengan Zahro’.

“Ah… Tak tahu kenapa…?” Banyak tanya yang bergelayut didalam hatiku tentang Zahro’.

***

   Burung-burung berkicau diatas pohon, melagukan harmoni yang indah. Matahari bersinar tak begitu terik, sehingga aku benar-benar nyaman duduk ditaman ini. Apalagi angin bertiup sejuk. Tapi hatiku sebel… sudah lebih seperempat jam aku menunggu Zahro’ tapi kenapa belum kelihatan juga batang hidungnya. Kemana tu anak? Anak itu kalo janjian mang suka ngaret…

“Ih…” kalo datang bakal tak berondong makian.

“Sebel bangeeet…” umpatku.

Tiba-tiba ku dengar suara mendekat.” Itu pasti dia. Awas… ya…!” aku menoleh… mang benar dia… kulihat wajahnya biasa, tanpa merasa bersalah.

“Halo Nisa… maap ya…! terlambat, tadi jalannya macet” terdengar kata-kata konvensionalnya. Gak mutu…!

“ughhh… jalannya macet ya? Kenapa nggak bilang kalo kamu tu suka ngaret kalo janjian…” aku mau marah, tapi coba kutahan. “Iya… maap… cepetan! Katanya mau kasih cara buat dapat cowok”. “Aduh… anak ini… benar-benar nggak punya perasaan, datang-datang langsung nodong” batinku.   “Iya, makanya aku ngajak kamu kesini tu ya untuk bantu kamu”.

“Cepat! Katakan caranya… nggak usah pakai basa-basi. Katakan! Bagaimana caranya Nis?” buru dia tidak sabar.

“Tenang donk…!”. Aku mengambil bungkusan yang kubawa tadi dari rumah, kubuka dan kuberikan pada Zahro’.

“Inikan… jilbab…? mang cari cowok pakai jilbab?” tanyanya nggak percaya.

“Wajahmu tu genit banget, kalo pakai jilbab kan terlihat feminim. Kamu nggak tau sih… Orientasi cowok sekarang tu cewek feminim”.

“Coba kamu pakai dulu! Biar aku lihat wajahmu”. Dengan ragu-ragu akhirnya dia memakainya  juga. “Gimana, cantik nggak?”. Aku takjub. “Subhanallah… Kamu cantik banget Zahro’, wajahmu mirip Zaskia Adya Mecca” gumamku. Zahro’ hanya tersenyum.

“Tapi sekian lama kamu makai jilbab, kamu juga nggak punya pacar Nisa…”. Aku terdiam sesaat . aku tahu dia akan bertanya seperti itu. Aduh, pertanyaan yang sulit kujawab. Ku kumpulkan keberanianku, kuatur kata-kataku, semoga kamu nggak marah Zahro’. Aku nggak berniat menyakiti hatimu. Ya Allah… aku berniat dakwah.

“Ehmm… ya, karena dalam islam pacaran itu haram” ucapku tegas. Mendengar kata-kataku, Zahro’ menunduk, tiba-tiba dari sudut matanya menngumpal butiran-butiran bening. Air matanya mengkristal, meleleh, membasahi pipinya yang putih.

“Afwan Zahro’, bukan aku melarang kamu pacaran, tapi mang karena Allah tu sayang ma kita…” jelasku.

“Terima kasih Nisa… Kenapa sih kamu selalu care sama aku?”.

“Quu angfusakum wa ahlikum naara… Kau adalah ahli-ku Zahro’, aku sayang sama kamu” aku tak bisa menahan tangisku. Zahro’ menghambur, lalu memelukku. Ia terisak dalam tangisannya.

“Sungguh… Dari dulu aku itu bingung dengan jati diriku. Aku itu bingung mencari identitasku… Hari ini kamu telah menyadarkan aku. Dan karena kamu telah meyakinkan aku, aku akan mengikutimu Nisa” ucapnya yakin tanpa keraguan sedikitpun.

Aku bahagia, seribu bunga telah kucium wanginya. Bibirku tak berhenti mengucap syukur… Alhamdulillah… Ya Allah kau tunjukkan Hidayah-Mu di hatinya…” kami berpelukan dalam tangis kebahagiaan.

***

             Bel tanda istirahat berbunyi. Aku berjalan keluar kelas. Lalu ku rebahkan tubuhku di kursi tua—depan taman sekolah. Aku jadi leluasa memandang teman-temanku. Ada yang sedang mojok buat berduaan, ada yang sedang ngobrol. Ada juga para cowok yang sedang main basket.

Aku teringat Zahro’ sudah tiga minggu ini dia pakai jilbab. Kalau sore juga sering bareng aku ke mesjid buat dengar pengajian. Wah… Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Aku jadi teringat juga pada jilbab yang aku berikan dulu.” Ternyata jilbab ini memang pakaian yang dibuat oleh Allah untuk para akhwat” gumam ku pelan.

Bibirku mulai bergerak melantunkan ayat suci al-quran. Surat al-ahzab ayat 59. Kubaca berkali-kali sampai  aku benar-benar hafal diluar kepala beserta maknanya. Ayat itu isinya: perintah Allah kepada para akhwat untuk berjilbab.” Tapi akhwat sekarang yang munafik juga banyak” decak hatiku. Orang berjilbab itu orientasinya macam-macam, tidak semua ikhlas menjalankan perintah Rabb Allah Tuhan yang Esa. Aku teringat teman-teman akhwat di kompleks tempat tinggalku. Ada Asya, dia makai jilbab cuma buat kelihatan cantik, biar jadi perhatian sama ikhwan. Aku sudah pernah lihat dia ciuman didepan umum dengan pacarnya, meski dia pakai jilbab. “Ya Allah… Trus buat apa jilbabnya, kalau tangannya saja ia relakan dipegang oleh ikhwan non mahram” bisikku. Atau Karin yang makai jilbab cuma ikut-ikutan temannya. Kulihat kepalanya memang memakai jilbab, tapi… Masya Allah… celana jeans dan bajunya ketat, menonjolkan bentuk tubuhnya. Aduh… harusnya jilbab itu longgar. Aku juga kasihan liat si Siti tetangga depan rumahku. Karena ayahnya seorang Kiai, ia dipaksa memakai jilbab oleh ayahnya. Padahal dia tidak mau. Pernah aku tanya dia kenapa dia tidak mau memakai jilbab? Dia menjawab ketus; “Pakai jilbab itu gerah banget… lagian aku nggak mau disebut cewek sok alim, sok suci”. Hatiku miris mendengar kata-katanya. Apa ini yang disebut cewek modern? Tanyaku pada hatiku sendiri. Ada lagi yang lebih parah, namanya Vina, dia sekolah di Madrasah Aliyah. Dia memakai jilbab cuma formalitas, karena peraturan sekolahnya, bagi para akhwat wajib memakai jilbab. Dan kalau kesekolah, dia memang memakai  jilbab. Tapi begitu pulang, sampai rumah…? kalau dia main keluar rumah…? aku lihat dia memakai celana hotpants sama tanktop. “Sungguh ironis…!”. Aku menghela nafas dalam-dalam. “Ya Allah… Naudzubillahimin dzalik” batinku berteriak.

Aku juga pernah dengar statement dari seseorang, kenapa jilbab itu banyak dipakai akhwat di timur-tengah… Karena daerah disana, kata dia… adalah padang pasir yang berdebu. Untuk menghindari debu dibuatlah jilbab. Aku tertawa mendengar statementnya, lucu, bodoh dan nggak beralasan. Kalo memang berdebu, harusnya nggak cuma akhwat yang pakai jilbab, tentu ikhwan juga harus memakai. Tapi nyatanya…? Dia benar-benar nggak tahu perintah Allah.

“Hayow… ngelamun, mikir siapa?” Aku terkejut ketika pundakku ditepuk Zahro’ dari belakang. “Ah, kamu ngagetin aku aja…” ucapku tergagap. Kulihat Zahro’ dengan jilbabnya. Manis… Lalu dia duduk disampingku. “Wah, jam kosong Nis, tadi kudengar buguru ada acara keluar kota”. Aku tersenyum. “Wah, nggak ada kegiatan dong, ntar buat kegiatan ah…”

“Eh Nis, tau nggak…? si Kevin baru aja nembak aku tadi…”

“Wuiihh…! Kevin yang tajir itu, yang kalo berangkat naik mobil itu, yang anak pengusaha itu…?” tanyaku.

“Iya… Mang dia, sekarang Kevin, kemarin Ferdy, kemarin lagi…”

“Mang ada berapa orang sih Zahro’ yang nembak kamu? Tanyaku penasaran.

“Aku itung dulu… satu… dua… tiga…”. aku tersenyum lihat Zahro’ begitu serius menghitung dengan jari tangannya. “Ada enam Nis…” kata dia terlonjak.

“Wah… kok bisa ya…?” Kulihat wajah Zahro’, dia terdiam beberapa saat. “Mang ada yang salah dengan jilbabku ya Nis?” tanyanya.

“Nggak…! Jilbabmu dan pakaianmu syar’i kok” jawabku meyakinkan.

“Trus kenapa ya…? Banyak cowok yang pengen aku jadi pacarnya. Padahal dulu nggak?”

“Itu namanya ujian dari Allah, trus sekarang gimana?” pancingku agar dia mau jujur dengan hatinya.

“Ya… seperti katamu, KEEP ISTIQOMAH. Sampai ada yang datang mengkhitbah kita” ucap Zahro’ serius tanpa keraguan. Hatiku lega akhirnya. “Alhamdulillah… Beneran nih, enam—enamnya ditolak?”

“Ya… Iyalah, kan yang masuk surga aku… Katamu kalo yang Islam Cuma KTP-ku doang, ntar yang masuk surga KTP-ku, he..he..he..”. Aku ikut tertawa. Masih ingat juga dia dengan candaanku kemarin.

Aku lalu bangkit dan menarik tangannya. “Kalo begitu aku mau teriak seperti kamu dulu…” ku genggam tangan Zahro’. Kulihat dia kebingungan. “Lho… nggak jadi istiqomah?” tanyanya sambil setengah berlari. Aku dan Zahro’ sampai ke tengah lapangan basket.

“ Please…! look at me…!” teriakku.

“Hai… Nisa… jangan! Zahro’ hendak mencegahku.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Kembali kulirik  Zahro’, ia tersenyum. Lalu ikutan teriak-teriak juga.

Please…! look at me…! hi girls… please…! look at me… i’m beautiful…”

Aku senang… akhirnya dia dapat memahami maksudku. Aku berharap akhwat disekolah ini mau memakai jilbab dengan syar’i untuk menjaga kesuciannya dan menjaga tingkah lakunya. Ikhlas, tulus dan sabar dalam menjalankan perintah Allah. Tidak riya’ dan yang lainnya. Dan sampai kapanpun dakwahku tak akan berhenti…

I’m khoirunnisa

by Lilia Nurul Huda

Cerpen: Perempuan Sempurna, Siapakah Engkau?

rose
Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan. Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang. Kurang apa coba?Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminya dengan suami saya.Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim.
Sebenarnya, sebagian besar ayat dalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.Ini terjemah ayat tersebut:

66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.
SEBUAH KONTRADIKSI

Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…
Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…
PEREMPUAN SEMPURNA

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
“Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).
Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut. Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurna kecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah IF dan Maryam binti Imran. Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-reba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib kw, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para penduduk akhirat.

Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?
Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…
JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita. Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga, mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.
Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Mas korupsi aja…”
Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah!
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Dikutip dari cerpen Mbak Afifah Afra 🙂
Thank u sister.. u really a great writer…

Sutera Kasih

kasih

Kian lama terpenjara
Mencari makna cinta
Dalam ungkap kata bersulam dusta

Bila gerbang rahmat terbuka
Menjelma cinta suci
Sehalus dan selembut sutera kasih

Terbentanglah tersingkap kebenaran
Terlerailah terbenam kepalsuan
Tuhan pada-Mu ada kedamaian

Diribaan-Mu kebahagiaan
Tiada lagi rasa kesangsian di hati
Cinta Mu cinta tulus suci murni
Kasih-Mu nan abadi

Bertautlah bercambahlah cinta
Mengharum dalam jiwa
Menemukan kerinduan syahdu
Pada yang Maha Esa

Sutera kasih membelai
Membalut kelukaan itu
Sutera kasih melambai
Mengisi kekosongan pengharapan

Rela pasrahkan kehidupan
Mengharungi cabaran
Rintangan perjalanan di hadapan

Doa dan titis air mata
Mendamba sutera kasih
Agar terus bersemi selamanya

Israeli Aircraft Pound Gaza

Hari yang kelam.. Kulihat mendung mengisi kesunyian di pagi hari ini. Matahari pun tak kelihatan muncul di peredarannya. Tak ada yang berbeda. Kecuali kedatangan sebuah mobil pick up putih yang dikendarai oleh seorang bapak-bapak paruh baya. Aneh.. gumamku. Kenapa tiba-tiba mobil itu berhenti didepanku? Aku tak mampu untuk beranjak pergi dari sana. Kurasakan kaki ku telah menancap erat ke dasar tanah. Kupandangi lagi mobil pick up itu, yang dibelakangnya berisi barang, entah barang apa yang ditutupi oleh selembar terpal berwarna putih. Seorang bapak paruh baya itu lantas turun dari mobilnya. Dia melangkah pelan menuju ke sisi belakang mobil, kemudian menyingkapkan terpal yang sedari tadi menutup erat.

Tiba-tiba kurasakan bulu kudukku merinding.. aku tak percaya akan hal ini!! TIDAK! Kulihat isinya sungguh mengerikan! Didalamnya ada beberapa jasad yang dilingkupi oleh kain kafan. Masya Allah! Teriak batinku. Aku sulit mempercayai akan hal ini.. kenapa? Kenapa ini harus terjadi? Seumur- umur baru kali ini aku melihat jasad sebegitu banyaknya.. kira-kira ada enam jasad.. Kulihat didalamnya ada orang dewasa, anak kecil, dan bayi. Tapi yang menyedihkan yaitu melihat wajah mereka yang terlihat meringis kesakitan. Aneh!! Padahal mereka semua telah mati tapi kenapa masih meringis? Dan ada juga diantara mereka wajahnya yang masih bergerak-gerak. Sungguh menyedihkan! Apalagi melihat kondisinya yang mengenaskan. Kain kafan yang seharusnya berwarna putih bersih telah ternodai oleh darah yang merembes dikainnya. Merah darah! Ya Allah.. aku takut! Kulihat ada seorang anak bayi. Tubuhnya membengkak entah karna apa.. Astaghfirullahal ‘aziim… tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkanku seorang diri.

Tiba-tiba datang mobil pick up kedua persis seperti mobil tadi. Mereka sama-sama membawa jasad manusia. Namun yang ini aneh! Begitu terpal dibuka.. terlihat beberapa jasad yang masih hidup. Ada satu jasad yang memandang kearah disekitarnya. Wajahnya tampak luar biasa kaget. Dia memandangku sekilas. Lalu dia bangun dari tempatnya.. duduk bersandar, memandangku bahagia.

“hah? Aku belum meninggal? Aku masih hidup..?” teriaknya takjub. Seketika ia tersenyum kepadaku.

“aku mati suri!” ucapnya girang.

“ya…” ucapku pelan.

Lalu dia bangkit dari tempatnya dan keluar dari mobil pick up tersebut. Hah.. Hah.. nafasku tersengal-sengal. Ya Allah.. apakah ini? Ku dengar alunan musik band “ARMADA” mengisi relung telingaku.. itu kan alarm bangun tidur.. ku coba membuka mata.. Astaghfirullahal ‘aziim.. ini hanya mimpi.. Terima kasih ya Allah..

Seperti biasanya, setelah aku mimpi tadi malam, pasti keesokan harinya aku mendapat jawaban atas mimpiku.

Pagi ini, kutemukan jawaban dari mimpiku itu. Jasad yang kulihat dimimpi itu ku temui di halaman Facebook. Sebuah postingan dari seorang teman menarik perhatianku. Lebih tepatnya, sebuah foto. Didalamnya kulihat gambar sebuah Koran keluaran “The Washington Post”. Didalam gambar terlihat seorang lelaki muda menggendong seorang anak bayi yang telah dibungkus oleh kain kafan.. Wajah lelaki itu terlihat meringis, sakit, pedih mengetahui adiknya sudah tak bernyawa. Karna telah di bom oleh kaum laknatullah.. Israel biadab!!! Beberapa anak muda dan bapak-bapak mengelilingi lelaki tersebut. Seorang lelaki memegang pundak lelaki tersebut, mencoba menabahkan hatinya.. kurasa aku pun tak sanggup menahan sakitnya.. T-T

Ya ilahi Robbi.. mimpi yang Engkau berikan padaku tadi malam membuatku tertegun, sadar.. seharusnya aku menolong saudaraku di palestina, suriah, libia, rohingya dan negeri muslim lainnya… sungguh aku malu dengan rasa cuek ku selama ini.. ampuni aku ya Allah.. aku sayang mereka, aku peduli dengan mereka, aku cinta mereka karna Engkau ya Allah.. lindungilah mereka semua ya Allah. pertemukan aku dengan mereka ya Rabb.. sungguh kucinta mereka.. ;'( Tempatkan mereka didalam surga-Mu yang kekal abadi selamanya..

So Good Bye Days

a friends come to you. give you a smile.

Kemana Kau Pergi Wahai Sahabatku?

aku masih ingat saat-saat itu. saat-saat dimana kita bercanda tertawa riang tanpa beban di pelataran surau, tempat kita belajar ilmu Islam. kau lah pemenang dalam kisah kecilku. kau selalu ingin menjadi nomor satu.

kau pintar dan elok. aku mulai kagum akan kepintaranmu, pun kau memiliki paras yang cantik. aku beruntung bisa bersahabat denganmu. namun keretakan dalam rumah mu tak dapat terelakkan. hingga kau menjadi korban dalam keretakan rumah tangga itu. aku kasihan padamu. ingin rasanya menghiburmu dan mengajakmu tinggal dirumahku. namun apa daya aku tak mampu.